Bullying, momok yang terus menghantui dunia Pendidikan, Kembali menjadi topik diskusi hangat. Para ahli mencoba mengurai perilaku bullying dengan menggabungkan teori kontekstual dan behavioristik.
Berdasarkan data gabungan JPPI dan KPAI, bentuk bullying yang paling banyak terjadi adalah bullying fisik dengan persentase sekitar 55,5%. Kasus ini mencakup pemukulan, penendangan, atau bentuk kekerasan fisik lainnya.
Disusul dengan bullying verbal atau psikis menempati posisi kedua dengan angka 29,3%. Bentuk ini mencakup hinaan, ejekan, atau pengucilan yang membuat korban merasa tertekan secara emosional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa interaksi negatif yang berulang dapat membentuk pola perilaku agresif pada anak sekaligus menurunnya empati serta kemampuan sosial dalam bersosialisasi secara sehat.
Perilaku Anak Bullying dalam Teori Behavioristik
Dalam teori behavioristik, tokoh seperti Ivan Pavlov, B.F. Skinner, dan John Watson menjelaskan bahwa perilaku manusia terbentuk karena hubungan antara stimulus dan respons. Artinya, kita belajar dari pengalaman.
Pada kasus bullying, pelaku bisa terbiasa melakukan agresi karena pernah mendapatkan keuntungan, misalnya merasa lebih berkuasa, diterima kelompok, atau tidak dimarahi guru.
Pengalaman-pengalaman itu akhirnya membentuk refleks terkondisi, yaitu perilaku yang muncul otomatis karena sudah sering dipraktikkan.
Jika setiap kali mengejek orang lain pelaku mendapat tepuk tangan dari teman-temannya, ia akan terus melakukannya. Inilah cara kerja conditioning dalam behavioristik: apa yang dianggap menyenangkan, akan diulang.
Peran Lingkungan dalam Teori Kontekstual
Teori kontekstual dari Bronfenbrenner menjelaskan bahwa lingkungan toxic, keluarga yang keras, teman yang suka mengejek, atau sekolah yang cuek, dapat membuat bullying dianggap normal. Jika lingkungan tidak sehat, perilaku buruk akan terus tumbuh.
Dalam teori kontekstual Bronfenbrenner, peran lingkungan terhadap perilaku bullying terbagi menjadi empat sistem utama, yaitu:
- Mikrosistem, yaitu kelompok pertemanan yang menjadikan kekerasan sebagai syarat diterima
- Mesosistem, yaitu hubungan antar lingkungan mikro, seperti interaksi antara orang tua dan guru. Komunikasi yang buruk antar pihak dapat memperburuk perilaku anak.
- Exosistem, yaitu tekanan keluarga atau media yang menormalisasi agresi.
- Makrosistem, yaitu nilai, budaya, dan norma masyarakat. Budaya yang membenarkan kekerasan atau dominasi dapat menormalisasi perilaku bullying
Dalam konteks bullying lingkungan toxic yang permisif terhadap kekerasan dapat memperkuat refleks terkondisi pada anak. Anak bisa mengasosiasikan perilaku agresif dengan penerimaan sosial atau kekuasaan.
Jika bullying sering mendapat perhatian atau dianggap lucu, maka secara tidak sadar anak belajar bahwa tindakan itu berhasil dan layak diulang.
Pandangan Ahli Menurut B.F. Skinner (1904–1990)
Menurut Burrhus Frederic Skinner, tokoh utama teori behavioristik modern yang berkembang kuat pada tahun 1930–1950, perilaku manusia termasuk bullying dibentuk melalui proses belajar yang ia sebut operant conditioning.
Skinner menjelaskan bahwa perilaku akan diulang jika mendapatkan penguatan (reinforcement) dan akan berhenti jika mendapat hukuman (punishment) atau tidak mendapat respons sama sekali.
Skinner menunjukkan melalui penelitian-penelitiannya pada tahun 1938 (dalam buku The Behavior of Organisms) bahwa manusia maupun hewan cenderung mengulang perilaku yang memberi efek menyenangkan.

Dalam konteks bullying, penguatan membuat tindakan agresif berubah menjadi kebiasaan otomatis.
Karena itu, menurut Skinner, bullying dapat dihentikan dengan menghilangkan penguatan pada perilaku agresif dan memberikan penguatan positif pada perilaku baik, seperti empati dan saling menghargai.
Mengapa Kasus Bullying Terus Meningkat?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa kasus bullying masih terus meningkat di Indonesia.
Pertama, kurangnya pengawasan di lingkungan sekolah, baik dari guru maupun pihak manajemen pendidikan.
Kedua, rendahnya pemahaman orang tua tentang dampak perundungan, sehingga kasus sering dianggap masalah sepele.
Ketiga, perkembangan teknologi yang memfasilitasi perundungan siber, di mana anak-anak dapat dengan mudah menyebarkan konten negatif di media sosial tanpa kontrol yang memadai.
Dampak psikologis dari anak yang sering di-bully yaitu sebagai berikut:
- Hilangnya kepercayaan diri, yaitu munculnya perasaan tidak pantas, keragu-raguan, dan ketakutan untuk memulai hal baru.
- Penurunan prestasi, yaitu kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi saat belajar pada korban bully berdampak pada penurunan prestasi akademik.
- Merasa rendah diri dan tidak berharga, yaitu korban bullying akan merasa tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah situasi.
Untuk menghadapi bullying antara refleks terkondisi dan lingkungan toxic, teori kontekstual dan behavioristik dapat digunakan melalui:
Pendekatan Behavioristik
Artinya, guru memberi reward saat siswa berperilaku baik dan konsekuensi edukatif Ketika terjadi bullying agar perilaku terbentuk ulang.
Pendekatan Kontekstual
Artinya, sekolah membuat aturan tegas anti-bullying dan membiasakan melatih guru dan teman sebaya untuk menegur langsung saat melihat bullying, sehingga lingkungan yang sebelumnya pasif menjadi lebih responsif dan aman.
Penutup
Bullying tidak akan hilang dengan sendirinya, tapi kita bisa membuat perubahan. Dengan memahami bagaimana refleks terkondisi terbentuk menurut behavioristik, dan bagaimana lingkungan toxic memengaruhi seseorang menurut teori kontekstual, kita menjadi lebih sadar bahwa pencegahan bullying adalah tugas bersama.
Penulis: Ajeng Rahmawati
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana
Dosen Pengampu: Trivena Dyah Wijayanti
Referensi
- Dampak Bullying terhadap Psikologi Anak · Fakultas Isipol Terbaik di Sumut https://fisipol.uma.ac.id/dampak-bullying-terhadap-psikologi-anak/
- Lonjakan Statistik Kasus Bullying di Indonesia, Ini Data Setiap Tahunnya! – GoodStats https://goodstats.id/article/data-kasus-bullying-di-indonesia-yG3WL
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
The post Bullying Antara Refleks Terkondisi dan Lingkungan Toxic appeared first on Media Mahasiswa Indonesia.