Oleh: Al Mahfud
Di linimasa, penulis sering melihat orang-orang memainkan aplikasi-aplikasi yang memunculkan perasaan senang. Aplikasi tersebut menawari analisis-analisis tertentu mengenai diri kita. Misalnya, memunculkan tokoh atau artis yang mirip dengan wajah kita (foto profil), memadukan wajah artis dengan wajah kita, hingga memunculkan tampilan chat para artis yang seolah-olah menunggu balasan dari kita.
Hasil-hasil analisis aplikasi tersebut membuat orang senang karena mendapatkan penilaian yang jauh lebih “tinggi” dari yang sebenarnya ada pada diri mereka. Orang yang biasa saja bisa dianggap mirip artis yang cantik atau tampan. Seorang jomlo yang tak pernah berbalas pesan dengan lawan jenis, bisa pamer sedang ditunggu balasan pesannya oleh para artis yang mengirimi pesan dengan nada menggoda.
Kita bisa menganggapnya sekadar bercandaan. Tapi tak bisa dipungkiri jika orang pada dasarnya senang dipuji dan diperhatikan. Ini ditangkap sempurna pembuat aplikasi untuk menghadirkan kondisi-kondisi yang memungkinkan orang mendapatkan perhatian dan pujian. Tapi, apakah dengan bermain aplikasi tersebut orang benar-benar merasa senang? Atau yang lebih jauh: kebahagiaan? Atau semua itu justru menenggelamkan orang pada ketidaknyamanan dan kecemasan?
Di era internet dan media sosial, sehari-hari pandangan kita dihadapkan pada konten-konten berupa foto-foto, video, dan berbagai informasi seputar dunia para artis, pejabat, hingga teman dan kerabat yang seakan memperlihatkan keceriaan, kebahagiaan, berbagai pencapaian. Semua membangun imajinasi juga definisi kita tentang “hidup yang semestinya”. Ini didukung gelontoran iklan yang setiap saat memasarkan produk dan jasa untuk secara konsisten mendorong orang mendapatkan kesenangan dan “kebahagiaan” hidup.
Facebook, Instragram, Twitter, Youtube, semua menghadirkan imajinasi kebahagiaan dalam status, foto, video, jumlah like, follower, subscriber, caption dan komentar. Dari sana, persepsi, definisi, dan harapan tentang kebahagiaan dibentuk. Para artis, pemimpin, tokoh-tokoh publik dan mereka-mereka yang punya pengikut berjumlah besar adalah sumber-sumber imajinasi dan inspirasi kebahagiaan. Kebahagiaan di era medsos menjadi tak jauh-jauh dari seberapa mampu kita menjadi perhatian.
Viral dan diributkan
Media punya andil besar dalam mengkonstruksi imajinasi kebahagiaan. Tapi di era digital kini, media, bahkan media mainstream, mulai banyak menyebarkan kabar-kabar dangkal, sekadar memburu viral. Di media sosial, yang viral adalah yang unik, luar biasa, mengejutkan, kadang cukup inspiratif.
Namun, tak sedikit pula yang viral karena kontroversial. Di Youtube, video-video prank yang sekadar mencari sensasi mendulang banyak penonton (viewer). Beberapa waktu lalu, seorang youtuber muda dari Indonesia ramai dikabarkan mencatat rekor subscriber terbanyak di Asia Tenggara dengan raihan lebih dari 10 juta subscriber. Dan kita sama-sama tahu konten seperti apa yang banyak dibuat sang Youtuber tersebut.
Orang-orang di media sosial banyak tertarik pada sensasi, bercandaan, keisengan, bahkan hal-hal yang terang-terangan menunjukkan sikap buruk (bad attitude), bahkan kebodohan. Itu semua akan memancing banyak orang merasa “lebih baik” dari apa yang mereka saksikan, lantas terdorong “mengingatkan”, “menasihati”, bahkan mem–bully. Semakin gaduh, semakin banyak reaksi warganet, konten kian viral.
Sialnya, mereka, para “penonton” ini ribut sendiri di media sosial sementara orang yang memproduksi konten tersebut mendulang keuntungan. Reaksi berupa komentar menasihati, mengingatkan, bahkan berdebat di kolom komentar dengan warganet lain, menggambarkan sebegitu terikatnya orang dengan konten di media sosial. Meski merasa sedang menasihati dan mengingatkan, apakah ini berdampak baik bagi kesehatan jiwa dan mental orang-orang?
Gobind Vashdev, dalam bukunya Happines Inside (2012), memberi gambaran bagaimana perhatian berlebihan pada apa yang kita saksikan di media sosial hanya menciptakan kecemasan, bahkan pertikaian. Dalam bukunya, pembicara multitalenta yang kini menetap di Bali tersebut bercerita pernah mengikuti sebuah reality show berkonsep mengumpulkan 15 orang dengan karakter berbeda di sebuah rumah. Berbagai konflik yang terjadi setiap hari di antara mereka dipantau kamera dan disaksikan masyarakat di televisi dan media sosial.
Setelah terekstradisi, Gobind terkejut saat menjelajahi forum-forum di dunia maya di mana wargnaet membicarakan reality show tersebut. “Mereka saling berdebat, membela satu di antara kami, dan yakin dengan pemikirannya,” tulisnya. Sebegitu serius warganet berdebat, bahkan melebihi apa yang terjadi sebenarnya. Gobind menegaskan, apa yang kita pikirkan terhadap situasi yang terjadi di luar, sering tidak tepat. Barangkali ini tak jauh berbeda dengan orang-orang yang berdebat sengit di media sosial membela capres pilihannya sembari mencaci lawan hanya karena sebuah berita viral, tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Tak semua perlu dipikirkan
Alih-alih merasakan ketenangan dan kebahagiaan, membiarkan diri terlalu terikat pada semua hal di media sosial malah memunculkan kecemasan. Terutama ketika orang merasa tertinggal saat membandingkan keadaannya dengan teman-teman, orang-orang sekitar, bahkan para public figure. Ini terutama terjadi di kalangan remaja atau anak muda. Banyak riset dan laporan mengungkap bagaimana media sosial telah banyak menyebabkan para remaja mengalami depresi.
Misalnya, laporan Centre for Longitudinal Studies berjudul Heavy social media use linked to depression in young teens mengungkap data pada 10.904 anak perempuan berusia 14 tahun di Inggris rata-rata memiliki skor gejala depresi tinggi. Mereka rata-rata menggunakan media sosial tiga jam atau lebih setiap hari. Penelitian tersebut juga mengungkap empat faktor potensial yang membuat remaja mengalami masalah kesehatan mental karena media sosial, yaitu kebiasaan tidur, pelecehan di dunia maya, citra tubuh atau penerimaan dengan penampilan mereka sendiri dan harga diri (tirto.id, 7/1/2019).
Mark Manson, bloger kenamaan dari New York, dalam bukunya Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (2018) menyoroti delusi-delusi yang bisa dialami orang di era internet dan media sosial. Menurutnya, perhatian berlebihan pada media sosial membuat orang begitu terikat pada hal-hal dangkal dan bahkan palsu, dan itu berdampak buruk pada kesehatan mental. Demi memelihara kewarasan, Mark memandang penting untuk bersikap “bodo amat” dan menentukan mana yang perlu dipedulikan dan mana yang tidak di media sosial.
Di buku perdananya yang telah terjual lebih dari tiga juta eksemplar pada Januari 2019 tersebut, Mark memandang penting mengoreksi nilai-nilai yang kita pegang: apa sebenarnya yang membuat kita bahagia dan tidak bahagia. Baginya, nilai-nilai yang saat ini banyak diburu orang demi kebahagiaan seperti kenikmatan, kesuksesan material, dan selalu benar, adalah “nilai-nilai sampah”; komoditas yang 24 jam sehari dipasarkan di hadapan kita, tapi menghasilkan orang-orang egois, serakah, hedonis, dan tak bisa mendengarkan pendapat orang lain. Mereka tercerabut dari nilai-nilai substansial seperti kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, dan persaudaraan.
Dulu kebahagiaan dirasakan orang ketika kebutuhan primer seperti makanan, pakaian, dan rumah (pangan, sandang, papan) tercukupi. Zaman bergerak, kebahagiaan mulai dipengaruhi pencapaian-pencapaian dan kepemilikan. Dan kini, era media sosial membuat kebahagiaan menjadi begitu artifisial, dangkal, dan gampang rapuh karena dipengaruhi delusi yang sering jauh dari kehidupan kebanyakan orang yang sebenarnya biasa-biasa saja.
(Artikel ini pernah tayang di Harian Analisa edisi 25 Februari 2019)
