
Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerjemah : F. Wicakso
Penerbit : Grasindo (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun : 2018
Tebal : viii+248 halaman
ISBN : 978-602-452-698-6
Ketika para motivator meyakinkan diri bahwa setiap orang punya keistimewaan sebagai bekal meraih kesuksesan dan kebahagiaan, Mark Manson memunculkan argumen-argumen yang seakan bertolak belakang. “Jangan berusaha!”, “kebahagiaan itu masalah”, dan “Anda tidak istimewa”, adalah beberapa pembahasan dalam buku pertama karya bloger kenamaan dari New York ini. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (2018) merupakan terjemahan dari The Subtle Art of Not Giving A Fuck (2016).
Buku edisi bahasa Indonesia yang sudah 16 kali cetak ulang sejak pertama kali dicetak pada Februari 2018 ini berisi pemikiran Mark Manson tentang perlunya bersikap cuek di era yang berisik sekarang. Mark memadukan pengalaman pribadi, cerita-cerita dari sejarah, hingga kisah hidup tokoh di berbagai bidang yang berpengaruh hari ini. Semua didalami dan ditiriskan menjadi sumber-sumber kesadaran baru yang realistis, tegas, berani, meski sering terasa pahit dan menyedihkan. Tapi, Mark mengklaim kesadaran tersebut berguna untuk menjaga kewarasan dan kesehatan emosional kita hari ini.
Di era internet dan media sosial, sehari-hari kita diberondong berbagai informasi dan kejadian “luar biasa”. Status, video, foto-foto para artis, pejabat, teman-teman, seolah semua tentang kesempurnaan, kebahagiaan dan pencapaian. Orang terus didorong untuk merasakan kebahagiaan, keceriaan, dan kenikmatan. Semua dipasarkan setiap hari lewat produk, jasa, dan budaya berbagi (share) di media sosial. Bagi Mark, itu semua merupakan gempuran omong kosong yang menciptakan perasaan tak nyaman dalam diri kita karena menampilkan sebuah standar tak masuk akal dan mustahil dihidupi.
Perhatian berlebihan pada semua itu, bagi Mark hanya membuat orang mengalami delusi. Keinginan dan harapan kosong yang sialnya bersifat merusak. Orang gampang cemas ketika menyadari hidupnya jauh dari semua yang disaksikan dan diangankan tersebut. Kecemasan membuat orang mulai menyalahkan diri sendiri, khawatir, dan merasa gagal. Kehidupan di mana segalanya dipandang sebagai komoditas ini dalam istilah Eric Fromm (2008) disebut “karakter pemasaran”, sebuah karakter sosial yang menghasilkan orang-orang yang mengalami krisis identitas. Orang-orang yang telah menjadi instrumen tanpa diri. Eksistensinya dipandang bergantung partisipasi mereka dalam korporasi.
Di sinilah, Mark memandang perlu bersikap masa bodoh. Tak terbatasnya hal yang dapat kita lihat atau ketahui saat ini, membuat tidak terbatas pula hal-hal yang mengakibatkan kita merasa terpinggirkan, merasa diri serba kurang, kecewa dengan hidup kita sendiri. Dan dalam pandangan Mark, ini bisa mengoyak diri kita dari dalam (hlm 10). Ia menawarkan pendekatan untuk lebih menerima segala yang terjadi dalam hidup. Baginya, ini bentuk pendekatan yang lebih waras ketimbang terus membebani diri dengan delusi.
Bagi Mark, cuek dan masa bodoh adalah cara untuk mengambil alih ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan apa yang tidak. Kemampuan memindai prioritas dan fokus pikiran ini, menurut Mark, bukan sebuah pencerahan yang mengawang-awang atau abstrak. Ini pencerahan praktis yang sejalan dengan kesadaran bahwa ada beberapa penderitaan yang mustahil dihindari. Mark tak memberi cara-cara menjauhi penderitaan, tapi bagaimana menanggungnya, menerimanya, dan menjadi kuat karenanya.
“Serangan”
Mark langsung “menyerang” dengan mengajukan bab-bab awal yang cukup kejam seperti “kebahagiaan itu masalah” dan “Anda tidak istimewa”. Apa-apa yang selama ini akrab kita dengar sebagai “kata-kata inspiratif” dari motivator, seakan “diserang” dengan argumen pedas, namun realistis. Semua argumen Mark seakan menghempaskan kita hingga jatuh ke titik kesadaran tertentu. Tepatnya kesadaran di mana kita bisa menerima keadaan apa pun dalam hidup.
Kebahagiaan yang umumnya dinanti-nantikan datangnya, dianggap Mark sebagai masalah, sebab salah dimengerti. Kebahagiaan bukan persamaan yang bisa dipecahkan seperti: jika saya menjadi X, saya bahagia, atau jika saya terlihat seperti Y, saya bahagia. Bagi Mark, kebahagiaan yang sebenarnya dirasakan dalam proses kerja yang konstan atau proses memecahkan masalah. Kebahagiaan lebih kepada proses mengalami, bukan mendapatkan dan menjadi sesuatu.
Ketika para motivator sekuat tenaga membantu orang-orang menemukan rasa percaya diri lewat pengertian bahwa setiap individu itu istimewa, Mark justru menulis “Anda tidak istimewa”!. Ini tentang cara menghargai diri sendiri dengan kemampuan mengakui bagian negatif diri secara blak-blakan, kemudian memperbaikinya. Keberhasilan, menurut Mark, dicapai orang-orang yang sadar bahwa dirinya tidak istimewa dan tidak menuntut diistimewakan dalam kondisi apa pun. Sehingga dari kesadaran tersebut, ia berjuang keras untuk berhasil.
Perspektif Mark Manson ini tak bisa dilepaskan dari pengalaman traumatis masa remaja ketika terjerumus dalam narkoba, dikurung dan kehilangan semua teman, dan orangtua bercerai. Atas derita, rasa sakit, dan trauma tersebut, Mark merasa layak mendapatkan kasih sayang “yang lebih” untuk membuktikan bahwa ia layak dicintai dan diterima. Beranjak dewasa, Mark kemudian menjadi “buaya darat”, mengencani banyak perempuan, biasa mabuk, dan berjudi. Kenyataannya, keegoisan berlandaskan trauma justru semakin menghancurkan hidupnya. Mark sadar seburuk apa pun pengalaman hidup tak semestinya membuat orang merasa istimewa, memaklumi semua keinginan, dan berhak melakukan apa pun sebagai “kompensasi”.
Nilai sampah
Kata-kata Mark ibarat tamparan bagi siapa pun yang terus dibelenggu obsesi untuk bahagia namun tak pernah bahagia. Argumen-argumennya seperti merubuhkan seluruh keangkuhan, keegoisan, obsesi, dan mengajak kita memandang hidup secara jauh lebih realistis. Di era internet dan media yang terus menggelontorkan siaran-siaran luar biasa, istimewa, memukau, untuk menarik perhatian kita semua, kita dikondisikan untuk percaya bahwa keistimewaan adalah standar kenormalan baru.
Masalahnya, seperti dirinya, Mark melihat sebagian besar orang hidupnya biasa saja. Agar tidak cemas, orang perlu menetapkan dan menyadari nilai kesadaran diri. Ini tentang apa apa yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih dan sadar apakah alasan atau nilai tersebut layak dipegang. Ada beberapa nilai yang sekarang cenderung dikejar dan dipegang banyak orang demi kebahagiaan, namun Mark menyebutnya sebagai “Nilai-nilai Sampah”. Yakni kenikmatan, kesuksesan material, selalu benar, dan (bahkan) tetap positif. Tiga yang pertama mungkin mudah kita terima, tapi yang terakhir? Di sinilah letak perbedaan Mark yang mengedepankan kejujuran emosi.
Para motivator sering menyarankan kita selalu “positif” di semua keadaan. Namun Mark, dengan yakin membujuk kita mengakui saja jika kadang hidup memang terasa menyebalkan. Mark berpandangan, pengingkaran terhadap emosi negatif justru menjerumuskan orang pada emosi negatif lebih dalam. Terus-menerus bersikap positif artinya mengelak dari masalah. Bagi Mark, emosi negatif bukan untuk diingkari, namun hanya perlu diekspresikan dengan cara yang bisa diterima secara sosial dan selaras dengan nilai yang kita pegang.
Melalui buku perdananya ini, Mark benar-benar mengajak orang memeras keinginan-keinginan “tidak masuk akal” dengan cara yang bahkan sangat kejam. Ini memang terasa pahit, namun ia yakin berguna untuk merawat kesehatan mental. Mark lebih mengajak orang berlapang dada atas keadaan hidup, memangkas perhatian dan pikiran tak penting, memegang nilai diri, dan menikmati pengalaman-pengalaman sederhana yang bermakna dalam hidup. “Penerimaan terhadap eksistensi Anda sendiri yang sedang-sedang saja akan benar-benar membebaskan Anda untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin Anda selesaikan,” tulisnya.
Mark menutup buku ini dengan tulisan berjudul “Sisi Cerah Kematian”. Ia berkisah pengalaman saat berdiri di puncak tebing Tanjung Harapan Afrika Selatan dengan jarak sejengkal dari kematian; debur ombak samudera di bawah sana siap menelannya. Dalam situasi yang membuatnya merasa kematian begitu nyata tersebut, ia menghadirkan refleksi tentang betapa rugi jika hidup—yang kelak pasti akan berakhir ini—dipusingkan keinginan-keinginan semu hanya untuk mendapatkan predikat “hebat”. Hidup yang hebat, bagi Mark, adalah saat orang mampu memilih mana yang penting dan mana yang tak penting untuk dipedulikan berdasarkan nilai hidup yang diyakini.
Argumen-argumen Mark Manson di buku ini bisa jadi tak cocok dengan pemikiran dan kondisi semua orang. Dalam beberapa hal mungkin terkesan begitu sinis pada kehidupan dan ini tak bisa dilepaskan dari pengalaman buruk dan traumatisnya. Namun, di luar semua itu, buku ini telah mendapat predikat terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. Pada Januari 2019 kemarin, buku ini telah terjual lebih dari tiga juta eksemplar dan itu rasanya cukup membuktikan bahwa apa yang dibicarakan Mark Manson dalam buku ini merefleksikan keadaan banyak orang di dunia.
*Naskah ini pernah tayang di Koran Tempo edisi Akhir Pekan 9-10 Februari 2019
