Entah dari mana asal sejarah ungkapan manusia makhluk sosial. Bacaan saya, bisa jadi karena sejarah peradaban manusia yang dipenuhi oleh fase soliter, berburu, nomaden, hingga klan, kabilah, yang semuanya itu manusia hidup berkelompok, bersuku-suku. Saya memahami jika fenomena ini menjadi fakta sejarah manusia. Namun tidak adil jika hal itu lantas menihilkan sisi manusia sebagai makhluk “aloness“, kesendirian. Ingat, aloness, kesendirian, bukan loneliness, kesepian.
Aloness merujuk pada diri manusia yang sendiri menghadapi kenyataan hidup, saat ia lahir dan wafat kelak. Senang, sedih, sakit dan sehat ia rasakan sendiri. Kondisi fisik yang ia rasakan, hanya ia yang merasakan. Orang lain hanya “berpura-pura” membayangkan rasa sakitnya. Empati, panik, hanya itu yang bisa dilakukan oleh orang lain. Tapi tidak dengan rasa sakitnya. Ia, sebagai manusia, membutuhkan ruang untuk sendiri. Mindfulness salah satunya membicarakan ruang dan waktu untuk menyendiri. Me-reset seluruh aktivitas dan otaknya, agar ia dapat segar kembali. Tentu saja, loneliness berbeda dengan aloness. Loneliness bermakna sepi, kesepian. Meski di tengah keramaian, ia merasa sepi. Loneliness ini satu kondisi yang harus dihindari. Masalah mental, psikologis yang berujung pada depresi. Padahal sejatinya, manusia tidak akan merasa kesepian sepanjang ia memiliki nilai, ideologi yang ia perjuangkan. Allah Swt, Dzat yang senantiasa berada disamping kita. Konsep ihsan menjadi penting di sini.
Terdapat sisi manusia itu makhluk dengan kesendirian. Ia lahir sendiri, tanpa atribut sosial apapun. Mau lahir dari keluarga mega triliun, super duper kaya raya, sultan, bangsawan, atau terlahir dari kalangan “Rojali” (Rombangan Jarang Beli), afirmasi KETM (Keluarga Ekonomi Tidak Mampu) atau apapun itu, faktanya ia lahir sendiri, tanpa busana. Modal awal lahir ke dunia, sama. Menangis, sebagai bahasa pertamanya. Keluarga yang menyambutnya-lah yang mulai melekatkan atribut sosial ke dirinya, hingga ia mendapatkan privilledge yang membedakan dirinya dengan yang lain. Namun tetap, lahir sebagai bayi seorang diri tanpa atribut apapun menjadi sisi aloness yang ia akan miliki.
Aloness adalah fitrah. Begitupula dengan introvert, sebagai wujud aloness yang dominan pada manusia. Tidak semua manusia memiliki sisi introvert. Sebagian manusia bersifat social butterfly, senang berada di keramaian, supel, mudah bergaul, dan berenergi saat ia di tengah-tengah banyak orang. Ini yang juga dikenal dengan extrovert. Bagi seorang introvert, berada pada kerumunan, menguras energinya. Ia merasa lelah pasca selesai kegiatan yang penuh dengan banyak manusia. Tidak berarti seorang introvert itu pemalu. Tidak. Ia bisa berbicara di depan publik (public speaking), kenal dengan banyak kalangan, dan berperilaku seperti semua hadirin yang ada di sana. Namun, energinya yang terkuras jika ia harus berlama-lama di tempat tersebut. Ia lebih memilih tempat sepi, sendiri, sebagai manifestasi fitrah manusia yang aloness.
Sementara itu, seorang ekstrovert sebalikannya. Saat kegiatan dan banyak manusia berakhir, lalu ia pulang dan mendapati tidak ada seorang pun di rumah, energinya terkuras. Ia tidak nyaman dengan kesendirian. Ia menganggap aloness sebagai loneliness. Dari sini sebenarnya kita bisa mengambil kesimpulan, yang paling rentan mengalami isu mental health kesepian adalah ekstrovert, social butterfly. Namun tentu saja, jika ia mengetahui bahwa loneliness sebagai penyakit mental dapat dilawan dengan menyibukan diri seorang diri, ia akan terlepas dari loneliness.
Manusia sebagai makhluk aloness perlu disadari oleh semua kita. Ini yang terpenting. Kita tidak akan selamanya hidup bersama-sama dengan keluarga. Mereka memiliki lini masa yang pada saatnya kelak akan meninggalkan kita seorang diri. Apalagi rekan kerja, bestie, atau atasan, bawahan, jaringan yang kita bangun sepanjang karir kita.
Kita akan menghadap Allah Swt seorang diri. Menjalani fase pasca kehidupan seorang diri. Hanya amal ibadah kita yang menemani kita pada seluruh fase tersebut. Saat ajal datang, seluruh koneksi dengan dunia luar terputus, kecuali amal jariyyah, doa anak shalih dan ilmu bermanfaat. Selebihnya terputus. Tidak ada backing, orang dalam. Presiden, kaisar, ketua umum partai, atau oligark dan seluruh orang kuat di dunia tidak akan mampu menolong kita. Jangankan membantu kita, mereka pun dalam kondisi sama, menghadapi seluruh proses tersebut seorang diri.
Sebelum lini masa itu datang menyapa kita, sadarilah dengan sepenuh hati bahwa kita makhluk alone. Nikmati dan jadikan itu sebagai salah satu cara menyembuhkan dan menguatkan diri dalam perjalanan singkat di dunia untuk perjalanan panjang tak berwaktu di akhirat kelak. Wallahu’alam bishshawaab
Denny Kodrat, penulis, tinggal di Sumedang.
Email: [email protected]; HP. 08112203367
