
Judul : Berpikir Kritis; Kecakapan Hidup di Era Digital
Penulis : Kasdin Sihotang
Penerbit : Kanisius
Cetakan : 1, 2018
Tebal : 264 halaman
ISBN : 978-979-21-5675-1
Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi membuat segala hal bisa bergerak, menyebar, dan berubah dengan sangat cepat, dinamis, dan kompleks. Orang butuh suatu kecakapan agar mampu memandang dan menyikapi segala sesuatu secara jernih di tengah banjir informasi, gagagan, pendapat, bahkan ideologi di ruang maya. Jika tidak, orang akan gampang hanyut dalam arus pemahaman dan pemikiran yang keliru tanpa menyadarinya, bahkan menimbulkan masalah secara luas.
Penyebaran berita bohong (hoax) yang kerap menimbulkan pertikaian dan saling hujat di linimasa adalah contoh gamblang tentang bagaimana ketidakmampuan berpikir kritis bisa berdampak buruk secara luas. Karena pikiran diliputi kebencian, kecurigaan, dan emosi, orang bisa gegabah memercayai dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Berawal dari sana, berita hoax menyebar cepat dan luas, menimbulkan efek domino, sehingga menimbulkan dampak mengkhawatirkan.
Melihat fenomena tersebut, kecakapan berpikir kritis menjadi kebutuhan penting. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah tenggelam dalam asumsi, prasangka, dan berbagai pandangan tak teruji. Berpikir kritis tak sekadar membuat orang mampu memandang segala sesuatu secara jernih, selektif, dan objektif. Pemikiran kritis juga akan terejawantah dalam sikap dan tindakan yang sangat membantu orang dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Namun, bagaimana cara agar kita bisa memiliki pemikiran yang kritis? Kasdin Sihotang dalam buku ini menyajikan ulasan panjang lebar tentang bagaimana membentuk kecakapan berpikir kritis. Ulasan dibangun runtut, dari paparan tentang berbagai cara berpikir yang menghambat pemikiran kritis, arti dan keutamaan berpikir kritis, level dan elemen berpikir kritis, standar-standar intelektual berpikir kritis, hingga topik-topik spesifik seperti memahami konsep, term, proposisi, argumen, penalaran, silogisme, induksi, dan sebagainya.
Mula-mula, dijabarkan hambatan-hambatan berpikir kritis agar pembaca tahu berbagai hal yang bisa mengganggu pemikiran kritis. Hambatan tersebut adalah: cara berpikir yang berpusat pada diri sendiri (egosentris berlebihan), pola berpikir yang mengabaikan nilai-nilai universal, berpikir tanpa pengujian, hingga pemujaan terhadap terknologi.
Egosentris yang berlebihan, misalnya, adalah mereka yang menempatkan pandangan dan nilai-nilai sendiri lebih unggul daripada orang lain. Menurut psikolog C. George Boeree, jelas Kasdin, egosentrisme adalah kecenderungan melihat dan memahami realitas sebagai yang berpusat pada diri sendiri. Pola berpikir ini menggap diri lebih hebat daripada orang lain hanya karena ukuran tingkat pendidikan, kualitas berpikir, ekonomi, dan status sosial. “Ini merupakan penghambat dalam berpikir kritis karena di dalamnya nalar tidak mendapat tempat,” tulis Kasdin.
Pemikiran kristis juga bisa terhambat karena mendewakan teknologi atau berpikir teknofil. Sikap ini ditandai ketergantungan mutlak terhadap teknoogi. Media sosial misalnya, telah mengancam otonomi seseorang, memudarkan perbedaan antara privasi dan publik, hingga sarana penyebaran permusuhan. Berdasar tiga hal tersebut, media sosial menjadi pembangkit apa yang disebut Eric Fromm sebagai nekrophilia; yakni upaya-upaya mematikan orang lain. Kecenderungan gaya bepikir tersebut cenderung mengesampingkan kecermatan, keakuratan, dan sikap selektif terhadap informasi (hlm 30).
Penulis menekankan bahwa berpikir kritis bukan sesuatu yang abstrak atau hampa, melainkan merupakan perbuatan konkret. Realitas tersebut tergambar dari berbagai keutamaan berpikir kritis. Mengutip Richard Paul dan Linda Elder (2013), Kasdin memaparkan keutamaan tersebut, yakni kerendahan hati intelektual, keberanian intelektual, empati intelektual, integritas intelektual, hingga keyakinan pada rasionalitas. Kerendahan hati intektual adalah kesadaran akan keterbatasan diri, termasuk keterbatasan pengetahuan, yang mendorong orang mau terbuka terhadap pandangan orang lain. “Jadi, keutamaan ini menghindarkan orang dari sikap egosentrisme dan sikap sok tahu,” jelasnya (hlm 41).
Bab IV menjelaskan standar-standar intelektual berpikir kritis. Yakni kejelasan, ketepatan, presisi, relevansi, kedalaman, keluasan, kelogisan, makna dan kewajaran. Standar-standar tersebut diperlukan sebagai dasar membangun penalaran yang baik. Penulis tak sekadar menjabarkan pengertian, namun juga melengkapinya dengan contoh agar pembaca mudah memahami.
Standar ketepatan (accuracy) adalah bagaimana suatu pernyataan dinyatakan dengan cara yang sebenarnya. Sebuah pernyataan bisa jadi jelas, namun tidak tepat. Sebab, orang sering menggambarkan sesuatu berdasarkan kepentingan. Untuk menguji ketepatan suatu pernyataan, kita perlu mengajukan pertanyaan: apakah itu sungguh-sungguh benar? Bagaimana kita dapat melihat jika itu memang tepat? Bagaimana kita menemukan jika itu memang benar? (hlm 68).
Ada tiga hal penting yang diperlukan dalam berpikir kritis, yakni konsep, term, dan proposisi. Konsep adalah gagasan tentang sesuatu, term adalah manifestasi dari konsep yang bisa berbentuk kata atau frasa, dan proposisi disusun berdasarkan term-term. Ketiganya saling terkait dalam membentuk argumen. Pembahasan tentang argumen diulas mendalam dalam satu bab, disusul bab tentang penalaran langsung, silogisme, induksi, hingga bagaimana membaca dan menulis secara kritis.
Kasdin menjelaskan, kegiatan utama bernalar adalah membangun argumen. Namun, kualitas argumen sebenarnya tidak ditentukan oleh kelihaian berdebat atau panjangnya kalimat, melainkan dari prinsip-prinsip berpikir yang terkandung dalam argumen tersebut. Di sini, penulis menekankan pentingnya membedakan antara argumen dan persuasi. Argumen merupakan bentuk penalaran dengan tujuan membuktikan kebenaran suatu klaim. Sedangkan, persuasi lebih pada upaya verbal atau non-verbal untuk memengaruhi opini lewat kata-kata yang mengentuk ego, rasa bersalah, prasangka, dan keserakahan orang lain (hlm 104-105).
Buku ini penting dipelajari oleh siapa pun untuk menghadapi era di mana informasi menyebar dengan sangat cepat dan masif. Di samping memandu kita dalam menghadapi era informasi digital, kecakapan berpikir kritis pada dasarnya juga merupakan modal berharga yang harus dimiliki dalam hidup. Ini agar orang bisa memandang segala sesuatu secara lebih jernih, serta mempu membuat penilaian dan keputusan secara lebih teliti, akurat, objektif, dan bijaksana.
*Naskah ini pernah tayang di Koran Sindo edisi Minggu 14 Oktober 2018
