Dua kata ini “mutu” dan “integritas” selalu menjadi percakapan hangat antara saya dan rekan saya baik sesama dosen dan juga pengawas sekolah. Satu sisi, saya cukup senang, banyak pihak sudah mengetahui apa itu mutu. Definisi mutu, sebagai standar untuk memuaskan pelanggan (siswa, mahasiswa, dan masyarakat). Tetapi, pada sisi lain, selalu dibuat celah bahwa standar itu hanya berhenti pada dokumen tertulis tentang mutu. Minus implementasi. Ibarat mobil, nampak mulus dari luar, namun saat dikendarai, tidak sesuai dengan harapan.
Bisa jadi, kultur mutu yang belum terinternal dalam setiap kita, mengakibatkan mutu dipandang beban berat, kewajiban. Padahal prinsip mutu, “Tuliskan apa yang dilakukan. Lakukan apa yang ditulis” (Write what to do, do what to write). Karena tidak dibiasakan untuk itu, ditambah secara institusi, sistem kerja di banyak institusi pendidikan belum berorientasi pada mutu, ujungnya kesadaran terhadap mutu ditanggung oleh individu-individunya. Sering kita dengar ucapan, “Bagaimana orangnya saja. Bagaimana kita saja.” ketika membahas perencanaan dalam pembelajaran, menjawab “Apakah kita selalu merencanakan persiapan sebelum mengajar?” Jawabannya beragam. Berujung pada “bagaimana kesadaran individunya.”
Dalam mutu, ujaran yang mengarahkan pada kesadaran individu, tidak ada sistem pengingat yang “memaksa” setiap individu melakukan praktik yang sama sebagai sebuah standar, mengindikasikan absennya orientasi mutu pada tataran lembaga. Ini tentunya berdampak pada kata kedua, yang menjadi isu perbincangan saya dengan banyak rekan, integritas.
Saya meyakini semua kita, orang Indonesia membenci korupsi, suap (risywah), gratifikasi, pungutan liar. Tetapi kenapa praktik-praktik itu selalu ada? Pelakunya bisa siapapun dari mulai pejabat, politisi, hingga pemuka agama. Semua kalangan menjadi pelaku korupsi, suap, gratifikasi atau pungutan liar. Padahal kita membenci perbuatan itu.
Atau jangan-jangan saya yang keliru. Orang Indonesia menyukai praktik itu karena bermanfaat, dapat memperkaya diri dengan instan, hanya malu mengakuinya. Bisa jadi, suatu saat ada aturan yang menyatakan praktik-praktik itu sah, legal, “halal” dilakukan karena bermanfaat selama semua orang happy dengan perbuatan itu, bukan?
Bagi kita yang tidak menganggap mutu sebagai prinsip dalam bekerja, integritas menjadi barang mewah. Integritas merupakan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan. Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan dan ucapkan, berbeda jauh dengan apa yang diperbuat.
“Mutu” dan “integritas” dua kata berbeda namun linear dalam pelaksanaannya. Lembaga yang membangun institusinya berdasarkan mutu, akan merawat dirinya dengan sistem pendukung yang menopang dan menjunjung tinggi nilai-nilai integritas. Praktik-praktik menyimpang, jika itu ada, hanya menunggu waktu untuk terpublikasikan. Sistem bekerja. Sanksinya tidak main-main, dapat berupa pemecatan. Itu tidak akan terjadi pada lembaga yang tidak bermutu.
Muncul pertanyaan, lembaga mana yang akan bertahan dan maju? individu mana yang akan maju dan bertumbuh? apakah lembaga/individu tidak bermutu dan tidak berintegritas ataukah lembaga/individu yang bermutu dan berintegritas? Saya rasa jawaban kita sama. Mereka yang menjunjung tinggi mutu dan integritas, meski mereka sedikit dan berada di tengah gempuran orang-orang atau lembaga tidak bermutu dan tidak berintegritas.
Alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt dengan aturan-aturan yang universal bahwa mereka yang benar-benar mengikuti aturan secara baik, disiplin, konsisten, apapun resikonya, ia yang akan menjadi pemenang. Dalam konteks negara, tidak ada negara korup di segala bidang menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya. Yang ada, ia akan menjadi negara penuh konflik berkepanjangan dan ujungnya negara tersebut bubar dengan berdarah-berdarah.
Tidak berbeda dengan itu, kita pun sama. Seandainya pun kita hidup kaya-raya, sejahtera, itu hanya akan kita rasakan di dunia. Ulama menyebutnya sebagai istidraj. Di akhirat, ia akan mendapatkan balasan secara pedih dari apa yang ia lakukan.
Jadi, mutu dan integritas, ujungnya tentang kita. Posisi kita terhadap dua kata itu, apakah memusuhinya atau berteman dengannya. Bukan tentang mereka. Karena di akhir, kita sudah dapat menentukan pemenangnya dari sekarang. Mereka yang menjunjung nilai-nilai mutu dan integritas.
