Pernahkah kita berpikir bahwa bahasa yang setiap hari kita pakai perlahan mulai menjauh dari diri kita sendiri? Bahasa Indonesia, yang dulunya menjadi kebanggaan dan simbol persatuan, kini sering kali hanya menjadi latar di antara hiruk-pikuk bahasa campuran yang kita gunakan di media sosial maupun percakapan sehari-hari.
Mungkin kita tidak sadar, tapi semakin sering kita menukar kata-kata Indonesia dengan istilah asing yang terasa lebih keren, semakin kita kehilangan kedekatan dengan bahasa ibu kita sendiri.
Suatu sore saya duduk di sebuah taman kota. Beberapa remaja terlihat sedang membuat video pendek dengan semangat yang menular. Mereka tertawa, menata kamera, dan bergantian berbicara di depan ponsel. Namun yang membuat saya berhenti memperhatikan bukanlah isi videonya, melainkan cara mereka berbicara, bahasa Indonesia yang bercampur dengan istilah Inggris dan kata-kata gaul dari berbagai bahasa lain.
Dalam satu kalimat, bisa muncul tiga bahasa sekaligus. Tampak lucu dan luwes, tapi di balik itu ada tanda bahwa bahasa kita sedang kehilangan ruangnya di hati penutur muda.
Fenomena semacam ini tidak muncul begitu saja. Dunia digital menuntut gaya komunikasi yang singkat, menarik, dan mengikuti tren. Bahasa menjadi simbol gaya hidup, bukan sekadar alat komunikasi. Di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia tetap relevan dengan zaman tanpa terasa kaku atau menggurui.
Baca juga: Bahasa Indonesia sebagai Identitas Bangsa di Era Globalisasi
Pembinaan bahasa tidak harus selalu dilakukan melalui seminar atau lomba pidato. Anak muda sekarang butuh pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Misalnya lewat konten kreatif di media sosial, tantangan menulis puisi singkat di Instagram, kuis daring tentang kata baku, atau podcast yang membahas topik ringan dengan bahasa Indonesia yang segar. Dengan cara seperti ini, bahasa bisa hidup di tempat yang memang menjadi ruang aktual generasi muda.
Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang kuno atau membosankan; ia hanya butuh cara baru untuk dicintai kembali. Kita tidak sedang kekurangan kata, tetapi kehilangan kebanggaan untuk memakainya.
Ketika anak muda mulai sadar bahwa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik bukan hal yang ketinggalan zaman, melainkan bentuk kecerdasan dan identitas, di situlah pembinaan bahasa menemukan maknanya yang sejati.
Bahasa akan tetap hidup selama masih digunakan dengan rasa. Ia tidak perlu diselamatkan, hanya perlu dijaga agar tetap punya rumah di hati para penuturnya. Dan rumah itu seharusnya tidak berada jauh di balik layar atau dalam dokumen resmi, tetapi di percakapan kecil, di status media sosial, di mana pun bahasa Indonesia bisa bernapas bebas dan hangat seperti dulu.

Penulis: Mellati Noersepty Khairunnisa
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN Raden Mas Said Surakarta
Dosen Pengampu: Tiya Agustina, M.Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
The post Bahasa yang Mulai Kehilangan Rumahnya appeared first on Media Mahasiswa Indonesia.