Akhirnya saya memenuhi undangan tim Kemendikdasmen untuk memberikan materi Pembelajaran Mendalam dan TPACK, Kamis hingga Sabtu, 16-18 Oktober 2025 di salah satu hotel di Jakarta Pusat. Peserta kegiatan itu adalah penerima Interactive Flat Pannel (IFP) program digitalisasi pendidikan yang merupakan prioritas Presiden Prabowo. Diantara mereka, ada yang baru saja tiba dari Daerah Istimewa Aceh, Jambi, Gorontalo, dan beberapa kabupaten/kota dari pulau Jawa. Saya mencoba test the water dengan bertanya pada beberapa peserta mengenai sejauhmana mereka menggunakan internet, aplikasi digital dalam pembelajaran. Ternyata, jawabannya di luar perkiraan saya. Mereka sudah terbiasa menggunakan teknologi, meski diakui, sinyal internet terkadang lancar dan ada gangguan. Namun secara umum, penggunaan teknologi bukanlah hal yang baru bagi mereka.
Tentu saja saya lega saat mendengar pengakuan para peserta. Terlebih pada sesi praktik micro teaching penggunaan IFP, ternyata para peserta fasih menggunakan IFP dalam berbagai mata pelajaran. Saya memberikan refleksi di ujung sesi micro teaching, bahwa rugi sekali saat sekolah memiliki fasilitas teknologi namun pemanfaatannya tidak optimal. IFP hanya digunakan bermain game, berkaraoke, atau menonton tayangan Youtube yang sama sekali tidak berkaitan dengan pembelajaran. Guru pun dapat dikatan rugi saat IFP ini tidak memberikan nilai tambah (added values) dalam pembelajaran. Karena itu, menjadi tantangan bagi guru saat sekolahnya mendapatkan IFP ini untuk semakin meningkatkan mutu pembelajaran.
Kaitan dengan judul artikel ini, Intellectual Humiliaty atau kerendahatian intelektual, guru-guru dari berbagai daerah ini menampilkan persona rendah hati dan kesederhanaan. Padahal di balik itu, mereka memiliki kemampuan atau tecnological literacy yang memadai. Mereka menyimak penjelasan saya dengan khusyu’, padahal saya yakin, apa yang saya sampaikan bukan barang baru, tidak ada yang baru, dan barangkali mereka sudah tahu. Namun yang terjadi, mereka mengikuti dengan seksama. Menurut saya, ini karakter intelektual yang luar biasa.
Intellectual humiliaty ini seandainya dapat ditularkan pada peserta didiknya, bahwa ilmu sekecil apapun itu harus diambil, dipahami, diterapkan dan direfleksi, nampaknya akan menggenapi karakter lain seorang intelektual seperti bernalar kritis (critical thinking), penasaran (curiousity). Intellectual humiliaty seandainya ia bertanya bukan untuk menguji kemampuan narasumber atau untuk menjatuhkan dan merendahkan narasumber, namun refleksi dari kepenasarannya. Ia bertanya karena tidak tahu, atau untuk mengkonfirmasi apa yang ia tangkap, bisa juga lebih dari itu, ia ingin mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap sehingga ia mampu mengaplikasikannya. Setelah ia mendapatkan penjelasan, ia menerima hal itu.
Dari sisi narasumber yang memiliki intellectual humiliaty, ia tidak malu mengakui jika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan audien. Tidak akan merasa direndahkan dengan pertanyaan bertubi-tubi dari audien karena ia tidak merasa tinggi, stay low key. Bukankah hanya orang tinggi hati sajalah yang merasa direndahkan, dihinakan, dipermalukan, jika ia merasa pertanyaan yang disampaikan tidak mampu ia jawab dengan baik? Dalam cara pandang seorang intellectual humiliaty semua aktivitas sharing yang dilakukan sesungguhnya merupakan taman ilmu, taman surga, wahana belajar untuk menggali pengalaman belajar sebanyak-banyaknya.
Pak Bambang dan Pa Kun mengajak saya shalat Jumat di Masjid Istiqamah Pacenongan. Khatib Jumat menyampaikan salah satu hadist bahwa dunia ini penjara bagi seorang muslim. Seorang muslim kaya-raya, tetap saja ia hidup dalam penjara. Jauh sekali dengan kehidupan di surga. Karena itu, kata khatib, jika seorang muslim wafat harus disegerakan pengurusan jenazahnya, agar rahmat Allah Swt segera menghampiri dirinya.
Merenungkan ungkapan khatib tersebut saya berpikir bahwa sehebat-hebatnya kita di dunia sejatinya kita terbatas, tidak ada apa-apanya, tidak ada istimewa-istimewanya. Terlebih jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat. Bukan bandingannya. Karena itu, dalam perspektif intellectual humiliaty, ia tidak ada alasan untuk sombong, menganggap diri tinggi dan luar biasa, karena hakikat seorang berilmu, saat ia mengetahui banyak ilmu, semakin ia merasa tidak tahu.
Di kampus, selepas mengisi perkuliahan Education Management, pesan masuk ke gawai saya. Pihak Kemendikdasmen mengundang kembali untuk kegiatan yang sama di hari Rabu besok. Dengan berat hati saya tolak. Terlalu sering bolos memberi kuliah kepada mahasiswa menjadi preseden tidak baik untuk tumbuhnya intellectual humiliaty.
