Kesepian tidak selalu hadir karena seseorang hidup sendirian. Banyak mahasiswa yang tinggal bersama keluarga lengkap, memiliki orang tua yang perhatian, namun justru merasa paling sunyi di rumah sendiri.
Fenomena ini semakin sering terjadi bukan karena kurangnya kasih sayang, tetapi karena bahasa yang tak lagi menjadi jembatan kedekatan. Kita tinggal bersama, tetapi jarang benar-benar saling hadir melalui percakapan.
Hari ini hampir semua anggota keluarga hidup dalam ritme yang terburu-buru. Orang tua pulang larut, adik atau kakak sibuk dengan gawai, sementara mahasiswa dipenuhi tugas, kelas, dan aktivitas kampus.
Ketika akhirnya sempat berbicara, percakapan sering hanya berupa kalimat fungsional: “Sudah makan?”, “Jangan pulang malam,” atau “Besok ada kuliah?” Perhatian itu terasa, tetapi hambar.
Seperti yang dikemukakan oleh Edward Sapir, “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin kebudayaan dan pikiran manusia.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa cara seseorang berbicara dalam keluarga mencerminkan bagaimana kebersamaan itu dimaknai.
Ketika bahasa di rumah menjadi dingin, singkat, dan tergesa-gesa, hal itu menandakan nilai kedekatan mulai memudar. Bahasa kehilangan fungsinya sebagai penghubung hati.
Baca Juga: Menjadi Mahasiswa Jauh dari Rumah: Antara Mimpi, Rindu, dan Tanggung Jawab
Bahasa hanya bertugas menyampaikan informasi, bukan menghadirkan kehangatan. Inilah “pain” terbesar mahasiswa modern: mereka tidak kekurangan keluarga, tetapi kekurangan ruang emosional di dalam keluarga. Mereka punya orang tua, tetapi kehilangan percakapan.
Fenomena ini kian terlihat pada mahasiswa perantau. Meski komunikasi mudah dilakukan melalui pesan singkat atau video call, percakapannya sering berhenti pada nasihat umum seperti “Belajar yang rajin,” atau “Jaga kesehatan.”
Kalimat semacam itu baik, tetapi tidak cukup untuk menggantikan sentuhan emosional yang biasanya tercipta dari percakapan tatap muka yang lebih personal. Mahasiswa tetap merasa sepi karena bahasa yang mereka terima bersifat informatif, bukan afektif.
Sebagai mahasiswa Bahasa Indonesia, hal ini menjadi menarik untuk dicermati. Kita diajarkan bahwa bahasa memiliki banyak fungsi, namun dalam keluarga modern, fungsi referensial sekadar menyampaikan informasi justru mendominasi.
Fungsi ekspresif dan fatik yang menjaga keintiman dan koneksi perlahan memudar. Padahal kalimat sederhana seperti, “Ibu bangga padamu,” atau “Kalau kamu lelah, cerita saja,” mampu mengembalikan rasa hangat yang mungkin tidak pernah diucapkan, tetapi sangat dibutuhkan.
Salah satu contoh kasus yang ada: Tidak sedikit mahasiswa yang tampak aktif di kampus, dekat dengan banyak teman, tetapi sebenarnya merasa tidak memiliki tempat pulang secara emosional.
Baca Juga: Pola Komunikasi Mahasiswa Perantau dalam Adaptasi Lingkungan Sosial di Kampus
Mereka lebih nyaman bercerita pada teman ketimbang keluarga, karena di rumah mereka tidak terbiasa didengarkan. Pola komunikasi di rumah pada akhirnya membentuk pola interaksi di luar.
Bahasa memiliki kekuatan besar dalam menentukan apakah sebuah rumah terasa sebagai “tempat pulang” atau hanya “tempat tinggal.” Ketika bahasa kehilangan kehangatannya, rumah kehilangan jiwanya.
Kesunyian yang dirasakan mahasiswa bukan hanya akibat kesibukan, tetapi juga akibat hilangnya bahasa sebagai penjaga kedekatan manusia.
Pada akhirnya, kesepian mahasiswa dalam keluarga sibuk dapat diatasi bukan dengan memperbanyak waktu, melainkan dengan memperbaiki cara berbahasa.
Kita dapat memulainya dari hal kecil: bertanya dengan lebih empatik, mendengarkan tanpa menghakimi, serta menghadirkan kalimat-kalimat sederhana yang membawa kehangatan. Menyapa dengan tulus, membuka ruang bercerita, dan menunjukkan apresiasi melalui kata-kata jujur dapat mengubah suasana rumah menjadi lebih hidup.
Bahasa yang lembut dan penuh perhatian mampu membuat seseorang merasa dihargai dan didengar. Dengan menghidupkan kembali percakapan yang hangat, keluarga dapat menjadi tempat pulang yang sesungguhnya—bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang emosional yang memberi kekuatan.
Penulis:

Qidwa Thahira (NIM 246151068)
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta
Dosen Pengampu: Dian Uswatun Hasanah, M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
The post Kesepian Mahasiswa dalam Keluarga Sibuk: Sebuah Fenomena Bahasa appeared first on Media Mahasiswa Indonesia.