Dari garis kiri memperjuangkan anti-rasialisme terhadap Tionghoa Indonesia, itulah yang setia dilakukan Go Gien Tjwan (1920-2018). Baginya, hak sipil, politik, dan ekonomi sama bernilainya, dan berlaku untuk setiap manusia tanpa pandang kelas dan rasnya. Go adalah salah satu pendiri Baperki yang mengadvokasi hak kewarganegaraan Indonesia. Pada 1965, ia dipenjara bersama banyak anggota Baperki lainnya. Setelah berhasil keluar dari penjara dengan bantuan sahabatnya yang berbeda ideologi, Adam Malik, ia akhirnya menjadi eksil di Amstelveen. Di sini pun, ia tak berhenti bergerak. Sembari menulis dan mengajar di Universitas Amsterdam, Go ikut mendirikan Komitee Indonesië dan aktif di berbagai organisasi eksil lainnya.
Di Malang, Go muda menggerakkan bagian penerangan Angkatan Muda Tionghoa yang pro-kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dengan Partai Sosialis pada masa revolusi, lantas dikirim partai untuk belajar antropologi di Leiden. Sembari sekolah, ia menjadi perwakilan pemuda dalam menggalang dukungan atas kedaulatan Indonesia. Go juga turut serta dalam Kongres Perdamaian tahun 1949. Di Belanda, ia mendirikan perwakilan kantor berita Antara pertama di luar negeri pada tahun 1951. Tak hanya itu, Go bersama Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Sunito, juga memimpin organisasi pelajar Perhimpoenan Indonesia. Mereka berdua kemudian ditangkap pemerintah Belanda dan diusir pulang dengan tuduhan melakukan kegiatan politik yang tidak diinginkan yakni komunisme. Namun, Go datang kembali ke Eropa kali ini untuk melanjutkan studi. Tahun 1962, ia menjadi orang Indonesia pertama yang meraih promosi doktor di Université libre de Bruxelles, di bawah bimbingan W.F. Wertheim.
*Tulisan dalam eksposisi ini berasal dari penelitian arsip-arsip Go GIen Tjwan, termasuk draft autobiografi yang ia tulis, juga dua buku karyanya: “Desa Dadap – Wujud Bhinneka Tunggal Ika” dan “Tulisan Pilihan dari Pengasingan.”
Halaman terakhir eksposisi ini menyajikan terjemahan adaptasi dari obituari Go Gien Tjwan yang ditulis Fridus Steijlen untuk newsletter Museum Maluku di Belanda, Oktober 2018.
Penulis: Rika Theo, Fridus Steijlen. Editor: Avie Azis, Lea Pamungkas
Peranakan Berpendidikan Belanda Pro Kemerdekaan Indonesia
Dari Belanda Melawan Perang Kolonial
Penjara 1965, Adam Malik, dan Meninggalkan Tanah Air
Intelektual Kiri Tionghoa di Pengasingan
Om Wim Go, Mentor Kesadaran Progresif
simak pula
Jejak Go Gien Tjwan Pendiri Baperki dan Universitas Res Publica: Dari Angkatan Muda Tionghoa Yang Giat Dalam Perjuangan Kemerdekaan Hingga Pengasingannya di Belanda
simak 2100 ‘entry’ lainnya pada link berikut
Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)


Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
