Kita ingin dikenal sebagai apa? atau seperti apa? Terkadang hal itu tersirat pada benak kita. Dikenal sebagai seorang idealis, konsisten, komitmen terhadap tanggung jawab, contoh citra diri yang kita inginkan. Pertanyaannya, apakah citra diri tersebut sekadar self-claim, kita yang mengklaim sendiri, atau orang yang menyebut citra diri itu? Ini yang menjadi tantangannya.
Dalam ilmu branding, suatu perusahaan dikenal dengan layanan yang cepat, tidak ada pungutan liar, bukan semata klaim sepihak perusahaan tersebut. Meski perusahaan itu memuat tulisan besar-besar di depan pintu kantornya, “Area Bebas Pungli” sementara pada praktiknya masih ada pungutan di luar yang telah ditetapkan, citra atau brand image yang digembar-gemborkan sebagai perusahaan yang bersih pungli akan luntur seketika. Demikian pula dengan diri kita, kita ingin mem-branding sebagai pengajar profesional yang ramah, namun tidak pernah masuk kelas sementara mahasiswa sudah lama menunggu kita, atau selalu terlambat masuk kelas, atau marah-marah, jutek, tidak ramah terhadap mahasiswanya, tentunya antara branding yang ingin kita bangun sebagai pengajar profesional yang ramah hancur seketika.
Karena itu, self-branding sebenarnya muncul dari pengakuan orang di luar kita. Mahasiswa menyebut kita sebagai dosen yang ramah, humble, selalu membimbing mahasiswa dalam kesulitan akademik, itu karena mahasiswa sendiri yang mengakuinya, mengamati dan mengalami kejadian tersebut. Bukan kita yang menyampaikan ke sana ke mari bahwa kita ramah, humble dan helpful. Atau memasang iklan tentang jati diri kita, lalu meminta validasi dari mahasiswa. Tidak seperti itu. Seandainya pun cara itu berhasil dilakukan oleh dosen, ini yang kita sebut sebagai praktik politik pencitraan. Ia memunculkan pseudo personality, karakter yang tidak otentik. Sewaktu-waktu karakter aslinya akan muncul dan akan banyak publik yang tertipu karenanya. Lalu seperti apa langkah yang harus dilakukan agar terjadi self-branding yang sesuai dengan kenyataan dan diakui oleh publik?
Manusia wajib memiliki value, nilai-nilai yang ia pegang dan perjuangkan sepanjang hidup. Tentunya, value ini harus mengandung kemuliaan, dignity, ketinggian moral dan etika. Semisal, saya memegang value integrity (integritas), honesty (kejujuran) dan intellectual humiliaty (kerendahatian intelektual). Nilai-nilai saya praktikan dalam karir saya, kehidupan keseharian saya. Karenanya, saya sangat membenci praktik korupsi, kolusi, nepotisme, pungutan liar, kezhaliman, ketidakseimbangan kekuasaan (power inequality). Sebaliknya, saya sangat mengapresiasi siapapun yang selaras antara ucapan dan tindakan, jujur, sopan. Salah satu dampak yang saya rasakan dalam karir saya sebagai dosen, jika jadwal memberi kuliah pukul 8 pagi, saya hadir di kelas tepat pukul 8. Jika saya terlambat, saya akan informasikan sebelumnya kepada mahasiswa. Jika tidak dapat masuk memberi kuliah, saya akan memberi kabar pada mahasiswa maksimal H-1. Demikian pula, jika mahasiswa mengirim pesan whatsapp saya pasti jawab. Saya tidak pernah menggunakan kata-kata kasar, mengintimidasi mahasiswa, sebaliknya saya senantiasa mendengarkan pendapat mereka, memberi umpan balik positif atas pendapat atau tugas mahasiswa. Perbuatan-perbuatan saya ini lahir dari nilai yang saya pegang, integrity, honesty, intellectual humiliaty.
Saya senang membaca, menulis, sharing dengan banyak kalangan, belajar dari berbagai macam sumber sebagai bentuk intellectual humiliaty. Bahkan rasa kepenasaran (curiosity) dalam berbagai hal, kadang memaksa saya untuk melakukan penyelidikan (research), dan membuat saya skeptis terhadap informasi yang diberikan kepada saya.
Perbuatan yang muncul sebagai konsekuensi dari values yang saya pegang tentunya dirasakan, diamati dan dialami oleh mahasiswa, rekan dosen, tenaga kependidikan, atau pihak lain yang mengenal saya. Merekalah yang ujungnya melakukan branding terhadap saya. Tentu saya tidak mau menuliskan dosen seperti apa saya menurut mereka, saya khawatir dianggap tinggi hati. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa branding bekerja seperti itu. Nilai yang kita anut, pegang, muncul dalam perbuatan, lalu publik yang berinteraksi dengan kita menyimpulkan dari sikap kita yang konsisten tersebut.
Ada hal yang penting dalam menentukan values diri, yaitu kita harus mengenal siapa diri kita. Tidak hanya sekadar kita tahu kebiasaan, hobi, kesenangan, kelebihan dan kekurangan kita, namun juga memiliki visi hidup, untuk apa kita hidup dan nilai-nilai hidup apa yang harus kita perjuangkan. Singkatnya, dengan mengenal siapa diri kita, values dapat terpancar dan dirasakan oleh orang sekitar.
Perusahaan membranding produk dan layanannya kurang lebih sama. Ia memiliki corporate culture dan values yang direpresentasikan dalam kebijakan, serta diimplementasikan secara konsisten. Dari sana, publik sebagai pengguna layanan atau produk, berinteraksi dengan perusahaan tersebut, baik dalam kapasitas publik sebagai konsumen, atau sebagai agen, atau sebagai stakeholders. Dampak dari penerapan values secara konsisten, dirasakan oleh semua pihak, branding yang ditanamkan dalam produk dan layanan, terkonfirmasi dan diakui oleh masyarakat. Publik-lah yang akhirnya melakukan pem-branding-an atas perusahaan tersebut baik dari layanan atau dari produknya.
Tidak heran kita bersepakat saat menyebut, misalnya, maskapai A sebagai maskapai tepat waktu, aman, nyaman, namun mahal. Maskapai B, maskapai delay, murah. Restauran X sebagai restoran nyaman, lezat, cepat. Begitu pula dengan diri kita sebenarnya. Orang lain secara bebas, setelah berinteraksi dengan kita, menilai dan membranding diri kita.
Stephen Covey menyebutnya sebagai begin with the end in mind. Mulai dari tujuan/akhir (the end). Seolah mengamini pendekatan backward, jika kita ingin memiliki citra diri yang diakui, tervalidasi di khalayak luas, harus memulai dulu dari ujung tujuannya. Mau jadi apa kita, lalu dipraktikan secara konsisten. Dampak dari mengerjakan secara konsisten itulah melahirkan self-branding/image. Oleh karena itu, penting juga untuk mengenal diri kita sendiri, sebelum orang lain mengenal kita.
