Guru, sebuah entitas yang berdiri di garis terdepan dalam pembentukan karakter (character education) dan pembimbingan generasi melalui kajian pendidikan (educational studies).
Peran para guru hampir tidak melewatkan waktu sedikitpun selain jeda meneduhkan ruh, istirahat untuk men-charger diri untuk bugar kembali.
Guru sesungguhnya adalah mereka yang mengajar dengan hati membimbing dengan kasih.
المعلم هو الذي يزرع الحكمة في قلوب الطلاب
“Guru adalah orang yang menanam kebijaksanaan di hati siswa”
Era kini, guru dihadapkan pada tantangan mengelola pengetahuan yang semakin kompleks dan beragam.
Guru harus dapat membedakan antara informasi yang benar atau hoaks, dan memahami bagaimana ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran.
Guru harus memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, serta bagaimana ia dapat mempengaruhi kehidupan peserta didiknya.
Baca Juga: Tantangan Pelaksanaan Bimbingan Karir pada Siswa Era Digital dan Strategi Efektif Guru BK
Guru sebagai Entitas
Beberapa tahun terakhir, profesi guru telah menghadapi banyak tantangan dan isu yang mempengaruhi kualitas pendidikan.
Salah satu yang dihadapi adalah beban tugas administrasi yang berlebihan, gaji guru honorer rendah, kurangnya fasilitas hingga kurangnya kesempatan pengembangan karir.
Hal ini seringkali mengurangi waktu mereka untuk fokus pada pengembangan pembelajaran kreatif.
Ditambah lagi dengan seringnya perubahan kurikulum yang terkesan dipaksakan yang menuntut adaptasi cepat dari seorang guru.
Tanpa pelatihan yang memadai dan terukur waktu, banyak guru kesulitan menerapkan kurikulum baru secara efektif dan efisien.
Demikian pula, maraknya bullying, siswa berani bolos, kurang disiplin menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dan yang paling terlupakan, era digital menuntut guru melek teknologi, tetapi tidak semua guru memiliki kemampuan yang memadai dalam menggunakan platform pembelajaran online, sementara tuntutan masyarakat pada guru sangat membebani secara psikologis dengan aturan yang seringkali disalahartikan.
Lalu apakah guru hanya sekadar penyampai pengetahuan, atau ada sesuatu yang lebih dalam dan kompleks?
Dalam konteks filsafat, guru sebagai “mediator” antara individu dan kebijaksanaan. Guru memotivasi siswa menemukan potensi yang melekat pada diri dan membimbingnya hingga sampai taraf kebijaksanaan.
Guru memiliki eksistensi yang unik sebagai agen perubahan, pembimbing, model, pengembang sekaligus sebagai evaluator.
Dengan begitu, guru memiliki eksistensi, relasi, aktualitas dan potensialitas tentang kiprahnya memajukan generasi bangsa melalui pendidikan. Guru dapat dipahami sebagai “being-for-others”.
Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Pendidikan melalui Komunikasi yang Efektif: Peran Guru, Orang Tua, dan Siswa
Guru, Kompleks dan Multifaset
Dalam ruang lingkup peserta didik, guru sebagai penyampai pengetahuan, membentuk cara berpikir akurat sehingga guru benar-benar sebagai “seeker of truth”.
Guru terus mencari kebenaran dan memperbaharui pengetahuannya untuk memastikan bahwa peserta didik mampu memunculkan ide cemerlang, menemukan potensi diri, melahirkan gagasan yang menjadi acuan khazanah keilmuan.
Era saat ini, guru dihadapkan pada tantangan untuk memahami nilai dan prinsip yang mendasari profesinya.
Guru harus memahami bagaimana ia mampu menjadi model bagi siswa dan mempengaruhi kehidupan mereka sehingga eksistensialis, pragmatis, humanis hingga konstruktivis seorang guru benar-benar menjadi model yang patut dibanggakan.
Akan tetapi dalam konteks ini, guru bukanlah hanya sekadar penyampai pengetahuan, melainkan sebagai entitas yang kompleks dan multifaset.
Tentunya, untuk mengimbangi peran guru dalam kiprahnya membangun generasi, perlu upaya untuk mengatasi segala problematika guru dengan;
- Mengurangi beban tugas administrasi dan lebih memberikan waktu pelayanan dan bimbingan pada peserta didik. Pemerintah dan sekolah perlu menyederhanakan sistem pelaporan tugas guru dengan memanfaatkan teknologi digital.
- Memberikan tambahan gaji yang berkelayakan pada guru honorer karena sesungguhnya profesi mereka sama dengan status guru yang lain sehingga dapat hidup yang layak dan fokus pada pengajaran.
- Meningkatkan fasilitas ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan fasilitas olah raga.
- Berkolaborasi dengan pihak lain untuk menyediakan peralatan pembelajaran yang memadai.
- Guru dibekali dengan pelatihan manajemen kelas dan psikologi pendidikan di awal tahun pembelajaran.
- Mengadakan silaturahmi rutin dengan orang tua, penanaman akidah-akhlak tidak saja bagi peserta didik tetapi juga untuk orang tua wali sehingga terwujud pola pembelajaran yang saling menguntungkan.
Baca Juga: Guru Arsitek Jiwa Generasi Muda
Dengan demikian, perlu dipahami bahwa guru bukanlah sekadar profesi, melainkan sebagai panggilan jiwa.
Perannya sangat berarti dalam membimbing generasi bangsa meskipun mereka menghadapi tantangan yang sangat kompleks.
Dengan dukungan pemerintah, sekolah, masyarakat dan orang tua, peran guru dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya guru dalam pembentukan karakter yang mumpuni.

Penulis: Syaifuddin Zuhri
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Studi Islam, Universitas Nurul Jadid
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
The post Eksistensi Guru: Sebuah Refleksi Filsafat appeared first on Media Mahasiswa Indonesia.