Entah ini pertemuan yang ke berapa kali. Setiap melihat hamparan air tenang di kolam renang, hati berdegup. Ada perasaan takut. Ya, bersentuhan dengan permainan air tidak pernah dibiasakan dari kecil. Teringat bagaimana tersedak. Air masuk ke dalam hidung atau telinga. Tiba-tiba pendengaran terganggu. Tidak ada orang yang memberitahu bagaimana cara menanganinya kala itu.
Namun saat ini, semua dicoba diperbaiki. Bersentuhan dengan air, ibarat berdamai dengan masalah, kekurangan diri atau ego yang sukar ditaklukan. Menyentuh air, menenggelamkan kepala ke dasar, sejatinya meditasi yang sempurna. Mengatur nafas. Membiarkan paru-paru menampung udara. Mengembang. Panas, namun setelahnya rileks, nyaman.
Semua dilakukan bertahap. Selangkah demi selangkah. Progres kecil atau besar, semuanya dirayakan. Disyukuri. Entah kapan saya akhirnya mahir berenang seperti banyak orang yang sedang berolahraga. Saya tidak pernah berpikir itu. Tidak ada jalan pintas untuk suatu ujung yang kita cintai prosesnya.
Bukankah ingin cepat-cepat sampai berarti kita bosan dengan perjalanannya? Ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan karena tujuan obrolan sudah tercapai? Tujuan obrolan sudah tercapai berarti kita mencintai tujuannya, bukan pada prosesnya. Mengindikasikan orang yang kita ajak bicara orang yang tidak spesial, karenanya ingin segera diakhiri pembicaraannya?
Tidak ada yang istimewa dengan jalan pintas, bagi penikmat proses. Bagi pencari ilmu, yang mewah itu proses menuntut ilmunya, bukan saat diwisudanya. Bagi calon pendekar, yang dicintainya seharusnya proses mempelajari jurus-jurus, sakit menahan beban latihan dan luka, bukan saat ia memperoleh sabuk hitamnya. Bagi para penghafal Al-Quran, yang dirindukan itu proses menghafal dan terus mengulang hafalannya, bukan selembar sertifikat atau selempang bertulis “hafidz Al-Quran”.
Bahkan, di atas itu, tidak ada jalan pintas dalam belajar. Semuanya harus tekun mendengarkan guru yang tengah menyampaikan materi. Berlatih dan belajar sendiri. Hanya orang-orang sesat pikir saja yang bangga dengan selembar kertas ijazah atau sertifikat atau seutas sabuk hitam tanpa belajar atau latihan yang benar, padahal satu menit kemudian ia akan diuji oleh kehidupan.
Takut dan bosan dalam belajar seharusnya dicintai dalam menapaki proses. Takut dan bosan akan hilang, menjadi cerita seru, saat kita mencapai garis akhir perjuangan. Bukankah shalat dan ibadah yang malas kita kerjakan akan menjadi aktivitas yang dirindukan kelak di akhirat? Wallahu’alam bishshawwab
Artikel ini ditayangkan juga di platform medium.com
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jalan-pintas-4087b747a36b
