Muslimah News, NASIONAL — Yudo Sadewa, putra Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dalam akun TikTok-nya @yudosadewa, mengatakan bahwa orang Indonesia “mabuk” agama dan tidak beragama.
Pernyataan ini disorot pemerhati pendidikan dan remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt.. Kepada MNews, Sabtu (15-11-2025), ia menyatakan, sangat berbahaya jika opini yang dilontarkan di media sosial tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar.
Gambaran Kegelisahan
Menurutnya, pernyataan tersebut sesungguhnya memberi gambaran adaya kegelisahan terhadap fenomena formalitas agama ketika simbol-simbol keagamaan ditonjolkan, tetapi substansi ajaran Islam tidak diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Ini bentuk kritik bagi kita semua, bahwa umat Islam saat ini hanya menjadikan Islam sebagai ibadah ritual, identitas sosial semata, tetapi dijauhkan dari pengaturan sistem hidup yang menyeluruh,” nilainya.
Diansyah menuturkan, fenomena terjauhkannya umat Islam dari aturan Islam tersebut akibat diterapkannya sistem sekuler kapitalisme saat ini. “Sistem inilah yang menjauhkan kehidupan dari aturan agama, yaitu Islam. Contohnya, pendidikan agama hanya menekankan pada perbaikan akhlak individu, bukan pembentukan sistem sosial islam,” ungkapnya.
Oleh karenanya, ia memandang, tidak mengherankan jika pelajar/remaja saat ini banyak yang terjerumus kepada tindakan kekerasan, seperti bullying, pergaulan bebas, tawuran, pinjol, judol dan sebagainya. “Ditambah lagi, sanksi yang diterapkan belum bisa membuat efek jera terhadap pelaku kejahatan sehingga kejadian-kejadian serupa terulang kembali,” ucapnya.
Tidak hanya itu, dalam kurikulum pendidikan saat ini, pelajar ditargetkan untuk mendapatkan nilai capaian akademik yang sempurna. “Namun, pembinaan dan pembentukan pola pikir dan pola sikap yang harus diajarkan agar mewujudkan generasi yang mempunyai kepribadian Islam, luput,” ujarnya.
Begitu pula, tambahnya, dalam bidang politik, ekonomi, dan kesehatan, kebijakan dan pelaksanaan pemerintahan dijauhkan dari hukum syariat Islam. “Pada akhirnya, korupsi dan kemaksiatan seolah menjadi budaya yang terus menggurita dan sulit untuk dilepaskan,” sindirnya.
Konsekuensi
Diansyah mengingatkan bahwa dalam Islam tidak ada istilah “mabuk” agama. “Yang ada, ketika kita sudah meyakini Islam sebagai agama yang paling diridai Allah Swt., maka konsekuensinya adalah tunduk, taat, patuh dan terikat kepada seluruh hukum aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt.,” tuturnya mengutip QS Al-Baqarah ayat 208, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”
Oleh sebab itu, ia menekankan, sudah seharusnya umat Islam memahami makna hakiki tentang Islam. “Islam adalah aturan hidup dan ideologi yang melahirkan aturan, kemudian diterapkan dalam sebuah sistem negara, yakni Daulah Islam, bukan yang lain. Tidak ada lagi yang disebut mabuk agama. Tampak religious, tetapi perbuatannya masih suka bermaksiat kepada Allah Swt.,” jelasnya.
Apalagi, Diansyah menyatakan, berabad-abad lamanya, Islam terbukti berhasil membangun generasi yang cemerlang, generasi yang unggul dalam akhlak, ilmu, keberanian, dan kontribusi nyata bagi peradaban manusia.
“Sejak masa Rasulullah saw. hingga kejayaan Khilafah di berbagai era, lahirlah para ulama, ilmuwan, pemimpin, dan pemikir yang menjadi mercusuar bagi dunia. Ini tampak dari para sahabat yang mulia, para mujahid yang menegakkan keadilan, hingga para ilmuwan, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan generasi penegak peradaban lainnya,” sebutnya.
Ia mengemukakan, mereka semua tumbuh dari sistem pendidikan Islam yang menanamkan akidah kuat, adab yang luhur, serta kesadaran akan amanah sebagai khairu ummah. “Keberhasilan panjang ini bukanlah kebetulan, tetapi hasil dari penerapan nilai-nilai Islam secara sungguh-sungguh dalam membentuk karakter, pola pikir, dan cara hidup,” tegasnya.
Jadi, ini menandaskan, inilah bukti yang kukuh bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi sebuah peradaban yang mampu melahirkan generasi unggul yang menerangi dunia dari masa ke masa. [MNews/RA]
