Timur Tengah merupakan pusat produksi dan distribusi minyak dunia. Ketika konflik meletus di wilayah ini, distribusi minyak bisa terganggu, yang memicu lonjakan harga minyak mentah global. Sebagai contoh, saat ketegangan Israel-Iran meningkat, harga minyak jenis Brent pernah menembus level USD 90 per barel.
Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM-nya sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak. Harga BBM yang tinggi berimbas langsung pada naiknya biaya logistik, transportasi, dan produksi barang. Ini menciptakan tekanan inflasi yang berdampak pada turunnya daya beli masyarakat. Inflasi yang tinggi juga mempersempit ruang konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Akibatnya, sektor-sektor konsumsi, industri, hingga transportasi di bursa saham tertekan karena prospek profitabilitasnya ikut suram.
