Menghitung Mundur Waktu – dennykodrat

Waktu merupakan aset terpenting bagi manusia. Begitu Allah Swt mengeksplisitkan betapa tak ternilainya waktu. Banyak ayat yang diawali oleh waktu, seperti Wal Ashr (Demi waktu Ashar), Wadhuha (Demi waktu Dhuha), Wal Fadjri (Demi waktu Fajar), dan banyak Allah Swt melekatkan waktu dalam setiap sumpahNya. Tentunya, mengindikasikan waktu aset tak ternilai yang dipinjamkan pada kita dalam mengarungi kehidupan.

Manusia bermentak sukses, karena itu, akan pelit terhadap waktu yang ia miliki. Ia memiliki what to do list yang ia taati, sebagai cara ia menghabiskan waktunya. Ia merasa rugi jika ia membuang waktu (wasting time) untuk kegiatan tidak produktif, meski itu dibalut dengan istilah “Me Time”, “Quality Time” atau “Self reward”, yang minim dampak pahala. Ia lebih suka menggunakan waktu untuk kesendiriannya untuk self-growth, agar terus bertumbuh dan memberikan dampak positif bagi diri dan lingkungannya.

Terlebih saat usia menginjak 40 tahun. Kesempatan hidup manusia Indonesia ada di angka 72 tahun. Artinya, ia mulai harus menghitung mundur berapa tahun lalu waktu tersisa yang ia dapat gunakan secara produktif untuk dioptimalkan. Berapa karya tulis yang bisa ia hasilkan. Berapa kali penanyangan podcast yang ia dapat lakukan. Berapa kali pelatihan yang dapat ia ikuti. Berapa pesan kebaikan yang ia dapat lakukan. Semuanya harus dihitung mundur.

Berbeda saat masih berusia 17 tahun, 20 tahun atau bahkan 35 tahun. Seolah kita hidup selamanya. Selalu sehat. Hari esok pasti menyapa. Seandainya pun sakit, tubuh memiliki cara tersendiri untuk sembuh. Namun tidak dengan mereka yang berusia 40 tahun. Allah Swt mengingatkan angka 40 tahun ini dalam Quran Surat Al Ahqaf ayat 15. Allah Swt berfirman:

“…Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Jika 72 tahun angka harapan hidup sebagai patokan, maka sisa usia kita tinggal 32 tahun saja. Seandainya yang dijadikan standar harapan hidup usia Rasulullah Saw yang wafat di usia 62 tahun, sisa usia tinggal kurang dari 22 tahun lagi. Apa yang bisa kita lakukan dengan sisa 22 tahun lagi.


Allah Swt memberikan pencerahan kepada kita, merujuk Quran Surat Al Ashr 2-3, “Demi Waktu, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran

Kata kuncinya agar tidak merugi adalah (1) beriman dan beramal salih; (2) saling menasihati untuk kebenaran; (3) saling menasihati dalam kesabaran. Seluruh waktu produktif yang mulai menghitung mundur ini harus dalam rangka empat kata kunci tersebut. Jika sisa usia digunakan hanya untuk menumpuk harta bekal hari tua, jelas merugi. Jika sisa usia pensiun ditujukan untuk banyak membuka bisnis, menjadi anggota partai politik, menjadi anggota dewan, bahkan menjadi pemimpin negeri ini, namun ia menjadi pemimpin zhalim, menindas rakyat, mempersulit banyak urusan publik, jelas ia merugi. Pokoknya, seluruh aktivitas di sisa usia yang digunakan untuk urusan dunia, dunia dan dunia, tidak ada kata akhirat di dalamnya, terlebih urusan itu dekat pada kemaksiatan dan keharaman, jelas rugi.


Penting untuk membatasi aktivitas yang tidak memiliki nilai lebih (added values) untuk kehidupan. Fokus pada kegiatan yang dapat menghasilkan amal kebaikan yang terus mengalir (amal jariyyah), selain semakin berlari kencang untuk mendekat kepada Allah Swt. Memperbanyak tobat dan terus melakukan watawashaubil haqqi. Watawashaubil shabr. Sampai malaikat maut menyapa kita (Q.S Al-Fajr 27-30) dengan kalimat, “ya ayyatuhan nafsul muthmainnah” yang artinya “Wahai jiwa yang tenang”. Kita kembali ke alam keabadian dengan tersenyum.[]