✍🏻Danke Soe Priatna
Tahukan istilah anak bawang dalam sebuah realitas sosial kehidupan anak – anak ?
Iyaaa…
Dia ada tapi dianggap gk ada.
Hanya pelengkap.
Bahkan kalau ikut main galah asinpun, anak bawang gk perlu dijaga.
Biarin aja… gk ngaruh.
Bahkan adakalanya anak bawang harus bersikap manis kalau ingin diajak main lagi sama senior senior yg punya banyak pengaruh dilingkungan.
Politik Indonesia yang bebas aktif, tetiba berubah jadi poltik yang banyak intrik bak bocil yang lagi cari identitas.
Kayak anak bawang yang ingin diakui tapi gk punya prestasi.
Ujung-ujungnya, memilih jalan bernaung dibawah ketek senior yang punya kuasa.
Bayangkan…
Untuk diakui eksistensinya, bapak angkat Bobby Kertanegara harus rela mengambil dana 1M USD sebagai iuran awal Board of Peace.
Dan PS menggantikan peran kucing kesayanganya yang gemar dielus-elus dan dibelai:
“good boy…good boy…”
PS tersenyum, sementara Trump mengelus-elus jakunya.
(Bayangin Bobby Kertanegara lagi dielus bawah dagunya sampe meler-meler).
Sosok yang tegas, garang dan singa podium yang lantang berteriak anti Aseng Asing itu telah berubah jadi anak bawang yang hanya ingin diakui dan diajak main oleh mereka yg punya kuasa.
Ingin dianggap hebat dengan mendompleng nama besar negara lain.
Padahal…
Dengan prinsip bebas aktif, indonesia sudah menjadi negara yang berdaulat.
Malaysia saat itu tidak berani macam-macam atau ngeledek kita.
Australia mingkem.
Singapore apalagi.
Indonesia bisa menjadi penggagas ide-ide berlian. Karena pemerintahanya diisi oleh manusia-manusia pilihan. Bukan buzzer. Bukan para penjilat. Dan bukan pula pemerintahan balas budi.
Semua menteri dipilih berdasar kapabelitas dan integritasnya.
Sekarang ?
Menteri diangkat sebatas untuk mengakomodasi titipan si ini dan si itu.
Prestasi ???
Yang penting jilatan panjang dan dalem kepada anak bawang.
Padahal…
Dalam kehidupan soasial, disaat kita bisa mengatakan “tidak” dan menunjukan “kemandirian”, maka disanalah titik balik bahwa kita bukan anak bawang lagi.
Ini negara, bukan arena main pribadi.
Ini soal kedaulatan dan harga diri negeri.
Bukan soal kamu ingin diakui tanpa prestasi, yang akhirnya hanya bisa nempel sana sini tapa punya jati diri.
“Heyyyy…
Kalain antek – antek asing…!!!”
(Jari menunjuk-nunjuk, tangan gebrak podium, setelah turun podium kemudian dia bertanya : eh…gw keren nggak ???
“Good boy good boy”)
Hallahhh dasar anak Abah !
Pasukan sakit hati.
Iyaa…
Iyaaa aku anak Abahhh.
(Lha wong aku manggile Abah karo bapaku).
