Akhir September 2025, masuk notif di email saya, undangan mengikuti pelatihan calon tutor online (Tuton) gelombang 2 Universitas Terbuka (UT) selama 4 (empat) hari. Jika lulus, saya resmi menjadi tuton UT. Bila gagal, ya coba lagi, atau ya sudahlah.
Dengan UT ini ada sejarah panjang. Saya pernah menjadi invaler, tutor pengganti, untuk mengajar Bahasa Inggris di Prodi PGSD saat itu sekitar tahun 2009. Bahkan ada mahasiswa UT, saat ini menjadi pengawas sekolah yang menyapa saya dan mengatakan bahwa ia pernah saya ajar. Setelah selesai menjadi invaler, saya melamar UT beberapa kali. Mengirimkan surat lamaran baik mendatangi langsung UT Bandung, jalan Panyileukan, juga pernah via pos, dan melalui aplikasi tuton ini. Hasilnya nihil.
Saya menghitung sudah lebih dari 6 (enam) kali lamaran saya layangkan. Hasilnya tidak ada respon. Untuk sistem rekrutmen tuton terakhir ini terbilang rapi. Ia mencantumkan formasi mata kuliah mana saja yang membuka rekrutmen. Sayangnya, mata kuliah Bahasa Inggris selalu penuh, tidak membuka lowongan. Saya mencoba melamar mata kuliah yang relevan, tidak lolos.
Bagian terakhir kisah dengan UT, saya melamar menjadi tutor Public Speaking, karena di kampus FIB, saya mengampu mata kuliah tersebut. UT membuka formasi untuk mata kuliah ini. Saya tidak diterima. Selang beberapa minggu, Ully, adik saya, memberitahu, “A, tuh UT buka lagi lowongan tuton” Saat saya buka, ternyata dibuka formasi untuk mata kuliah Bahasa Inggris. Saya membuka akun saya di handphone. Saya klik lamar, tertera notifikasi, “Anda sudah melamar di mata kuliah Public Speaking” Ya sudah bukan rezeki saya.
Tiba-tiba ada notif beberapa hari berikutnya bahwa saya diundang untuk mengikuti pelatihan. Awalnya saya menduga untuk mata kuliah Public Speaking. Setelah saya cek fakultas dan mata kuliahnya, ternyata di FKIP untuk mata kuliah umum Bahasa Inggris. Saya tidak banyak bertanya-tanya. Singkat cerita, saya mengikuti pelatihan tersebut.
Beruntungnya, selama ini saya terbiasa dengan LMS yang mirip dikembangkan UT. Pelatihan Guru Penggerak, baik saat saya menjadi Calon Guru Penggerak dan juga saat menjadi Pengajar Praktik. Begitu pula, LMS yang sama baru saya gunakan di pelatihan fasilitator pembelajaran mendalam dan juga di kampus saya. Mengajar di Fakultas Teknologi Informasi harus menggunakan LMS meski perkuliahan dilakukan secara tatap muka. Karena sudah terbiasa, apa yang diminta oleh UT saya bisa penuhi dengan cepat.
Salah satu kebiasaan saya jika saya suka atas aktivitas tersebut, saya tidak menunda pekerjaan. Selama pelatihan, saya diberikan dua akun LMS. Satu akun sebagai kelas simulasi. Saya di sana seolah-olah sebagai tuton yang harus membuat video sapaan, membuat pengayaan, plus memberi umpan balik dan nilai untuk forum diskusi dan tugas terhadap 25 mahasiswa. Saya membereskan semua tugas di kelas simulasi hanya dalam waktu dua hari saja dari empat hari yang disediakan. Akun satunya lagi sebagai kelas pelatihan. Saya menyimak dan membaca informasi yang tersedia di akun ini. Kemudian, saya harus menjawab kuis. Aktivitas saya ini direkam dalam bentuk persentase. Bedanya, setiap tugas per-sesi, dibuka sesuai jadwal, untuk empat hari.
Karena materi mengenai LMS ini sudah sangat saya kuasai, saya bisa mengerjakan tugas di akun pelatihan ini maksimal 30 menit saja. Sehingga saat sesi terakhir, saya begadang menunggu pergantian hari. Tepat pukul 00.01, sesi terakhir dapat saya akses di LMS. Saya langsung mengerjakan, tidak menunggu pagi, siang atau malam. Alhamdulillah, tuntas.
Iseng-iseng saya membuka akun pelatihan ini setelah magrib. Ternyata websitenya banyak yang mengakses, sehingga saya tidak dapat membuka akun saya. Terus-menerus saya coba berkali-kali hingga pukul 23.59 WIB, akun saya tidak dapat dibuka. Baru dapat saya buka keesokan harinya. Tentu saja pelatihan sudah selesai. Settingan akunpun sudah berubah. Untungnya saya tidak menunda-nunda untuk menyelesaikan tugas saya. Tidak menunggu siang atau malam. Jika itu kejadian, nampaknya saya tidak akan jadi tuton.
Saya memaknai cerita UT ini bahwa apa yang kita inginkan tidak harus selalu terpenuhi saat itu juga. Tidak begitu. Alasannya sederhana, belum saatnya. Belum rezekinya. Bisa jadi di lain waktu, apa yang kita inginkan menjadi kenyataan. Bisa juga, keinginan itu hanya akan menjadi keinginan yang kita lupakan seiring waktu berjalan.
Saya tidak menafikan bahwa UT termasuk perguruan tinggi yang membayar tutor secara layak, bahkan sangat layak dibandingkan perguruan tinggi swasta, wajar bila banyak dosen, pendidik yang mendaftar. Namun, jika niat saya bergabung dengan UT hanya di drive oleh uang, bayaran, meski itu halal dan thoyyib, saya tidak menjadi outlier, Tidak ada nilai lebih. Variabel melayani, mendidik, meningkatkan kualitas mahasiswa dengan pembelajaran model tuton ini, harus menjadi sistem nilai dalam diri saya, agar yang saya dapatkan tidak hanya sekadar uang, tapi dampak, nilai lebih yang didapat oleh mahasiswa yang saya dampingi dan semoga ilmu yang mereka dapat bermanfaat bagi kehidupannya, saya mendapatkan amal jariyyahnya.
Dibalik itu semua, saya tengah mengamati model pembelajaran berbasis LMS ini. Ia mengedepankan personalisasi pembelajaran. Mahasiswa dapat belajar di manapun, kapanpun, mengasah dan menguji ilmu yang mereka peroleh dari hasil baca atas modul-modul yang mereka akses. Jika mahasiswanya benar-benar memiliki kesadaran berjalan yang tinggi, independent learners, bahkan lebih jauh sudah menjadi pembelajaran sepanjang hayat, kompetensi dapat ia peroleh dengan model pembelajaran ini, tanpa ia harus meninggalkan atau berbagi waktu dengan tempat ia bekerja. Saya yakin hal ini berbeda dengan mereka yang berorientasi atau mengejar ijazah. Ia bisa menggunakan cara shortcut baik menggunakan AI dalam menulis komentar, tugas atau menjawab pertanyaan-pertanyaan di LMS. Bisa saja saya terkelabui, namun yang rugi tentunya mahasiswa. Ia tidak mendapatkan apapun kecuali ijazah, sementara di dunia kerja, kompetensi yang diutamakan. Ijazah hanya syarat administrasi belaka.
Anyway, Jika saya dinyatakan lulus pelatihan, berarti ada tugas baru yang harus saya selesaikan dengan baik. Jika tidak lulus, ya tidak apa-apa. Wallahu’alam bishshawawab
