Perundungan Guru | gemuruhdalamsunyi

Oleh Al-Mahfud

Dunia pendidikan kita kembali dicoreng berbagai kasus perundungan. Setelah di awal tahun kemarin kita dibuat terpukul oleh hilangnya nyawa seorang guru kesenian di sebuah SMA di Sampang Madura karena dianiaya murid, di awal tahun ini kita kembali disuguhi rentetan kabar kasus perundungan guru oleh murid.

8 November 2018, di sebuah SMK di Kendal Jawa Tengah, seorang guru ditendang secara bergantian oleh lima siswa di dalam kelas. Tendangan-tendangan tersebut tak mengenai guru. Siswa-siswi tertawa melihat guru membalas dengan tendangan sampai sepatunya lepas. Sepatu tersebut lantas ditendang seorang siswa lebih jauh. Kejadian tersebut diabadikan dalam sebuah video yang kemudian viral. Pihak sekolah menganggap hal tersebut sekadar guyonan atau bercanda.

Pada 2 Februari 2019, beredar video seorang siswa menantang dan menarik kerah leher baju guru. Kabarnya, siswa melakukannya karena merasa tak terima saat ditegur karena membolos di warung dan merokok. Mendikbud menilai kasus yang terjadi di sebuah SMP di Gresik Jawa Timur tersebut sangat kasuistik dan spesifik. Bahkan, dikatakan tergolong perilaku siswa remaja yang menyimpang.

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 9 Februari 2019, muncul kabar seorang tenaga honorer di SMP di Talakar Sulawesi yang dikeroyok tiga siswa dan seorang orangtua siswa hingga luka-luka. Media mengabarkan, tenaga honorer yang juga petugas kebersihan sekolah tersebut sebelumnya telah menampar seorang murid yang telah menghinanya dengan sebutan (maaf) “pegawai najis” dan (maaf) “pegawai anjing” saat ia sedang membersihkan halaman sekolah.

Setiap kasus punya kronologi kejadian dan konteks masing-masing. Kita tak bisa memukul rata penyebab terjadinya sederet perundungan yang menimpa guru dan pegawai di lingkungan sekolah tersebut. Kasus di Gresik dan Talakar memperlihatkan kenakalan dan tiadanya adab dan sopan santun siswa. Mereka menyerang guru dan tenaga kebersihan karena tak terima saat diingatkan atas pelanggaran kedisiplinan atau kesalahan yang mereka lakukan.

Kasus di Kendal yang dianggap pihak sekolah sebagai guyonan (bercandaan), di satu sisi menggambarkan relasi guru-murid yang cenderung tak biasa, namun kebablasan. Di samping murid yang tidak menunjukkan etika dan adab (dengan menendang-nendang, meski tak mengenai guru), tergambar juga guru yang kurang punya kewibawaan. Sebab, guru tersebut membalas “guyonan” dengan melakukan hal yang sama (gerakan menendang), sehingga para murid semakin kurang menghormatinya dengan menertawakannya.

            Wibawa guru

Menyikapi berbagai kasus perundungan murid pada guru belakangan, Mendikbud Muhadjir Effendy berkali-kali dalam pernyataannya menegaskan pentingnya guru menjaga kewibawaannya. “Mewanti-wanti kepada guru, supaya menjaga kewibawaannya di depan siswa. Jangan sampai dia kehilangan panutan, keteladanan,” kata Muhadjir, sebagaimana banyak dikutip di media pada Selasa (12/2/2019).

Memang tak semua guru punya wibawa sehingga disegani muridnya. Tak semua guru punya daya magnetis yang bisa “mengendalikan” murid sehingga setiap kata-katanya dipatuhi. Sebagian guru mungkin begitu berwibawa dan disegani, sebagian mungkin sekadar cukup disegani, dan sisanya ada banyak guru yang masih berusaha “membangun” kewibawaannya sebagai pendidik.

Kewibawaan guru tak muncul begitu saja, namun dibangun dari keseharian berinteraksi dengan murid, baik saat mengajar di kelas maupun di luar kelas. Kewibawaan dibentuk dari berbagai aspek: sikap atau kepribadian guru, wawasan atau keilmuan guru, kemampuan mengajar (pedagogik), ketegasan dan konsistensi dalam menegakkan peraturan, hingga kedekatan dengan murid.

Sejauh mana murid mematuhi aturan juga dipengaruhi oleh wibawa peraturan itu sendiri. Ini tentang penegakan aturan. Peraturan yang tegas dan konsisten ditegakkan tentu lebih dipatuhi siswa ketimbang aturan yang dijalankan sekadarnya saja. Kasus murid bolos, merokok, berkata tak sopan, dan berbagai pelanggaran kedisiplinan dan norma sekolah bisa ditekan jika peraturan benar-benar ditegakkan secara tegas dan konsisten.

Menegur

Murid yang sadar kedisiplinan memang tak bikin repot guru. Namun, ada murid tertentu yang tetap melanggar aturan sehingga guru perlu menegur, mengingatkan, bahkan memberi hukuman. Adegan menegur murid selalu menjadi pertaruhan besar bagi kewibawaan seorang guru.

Di film Dilan 1990, kita melihat gambaran kewibawaan guru dan pengaruhnya bagi ketaatan siswa. Di film yang populer di kalangan remaja tersebut, ada adegan di mana Dilan melawan dan menyerang guru bernama Pak Suripto karena guru tersebut menarik dan menamparnya setelah pindah barisan saat upacara. Dilan diamankan dan di hadapan kepala sekolah, ia berkata, “Aku bukan melawan guru, aku melawan Suripto”.

Dilan juga mengatakan, tindakan menarik kerah leher bajunya dan menampar yang dilakukan Pak Suripto bukan cara yang pantas ditunjukkan seorang guru. Dilan merasa melawan “Suripto”, bukan “Pak Suripto”, sebab di matanya, Pak Suripto tak memiliki sikap ideal seorang guru yang mestinya bisa digugu lan ditiru (dipercaya dan diikuti). Dilan melihat Pak Suripto terlalu kasar, frontal, dan tak menunjukkan keteladanan sebagai guru. Sehingga, tegurannya justru memantik perlawanan dan bahkan serangan terhadapnya.

Teguran didengar atau tidak bergantung kewibawaan guru yang dibentuk dari sikapnya dalam berinteraksi bersama murid. Jika guru berwibawa, sedangkan siswa punya cukup kesadaran menghormati, teguran cenderung menyadarkan murid. Sebaliknya, ketika guru tak punya cukup kewibawaan, atau bahkan tak berwibawa sama sekali, menegur siswa bisa menjadi urusan tak sederhana. Murid yang agresif bisa saja melakukan “perlawanan” bahkan serangan seperti yang terjadi dalam beberapa kasus yang viral belakangan.

Cara-cara memberi teguran dan kondisi emosi penegur (guru) maupun yang ditegur (murid) juga berpengaruh terhadap bagaimana reaksi murid yang ditegur; apakah sadar dengan kesalahannya, atau justru tak terima dan bahkan melawan balik. Kita melihat rata-rata kasus perundungan guru oleh murid di sekolah hampir selalu terjadi berkaitan dengan tindakan menegur.

Guru berwibawa bukan guru yang kelewat dekat sehingga cenderung “diremehkan” muridnya. Guru berwibawa juga bukan guru yang terlalu keras sehingga ditakuti muridnya. Guru berwibawa tahu bagaimana membangun relasi dengan murid secara tepat, sehingga ia dihargai dan dihormati sebagai guru tanpa harus ditakuti.

Maraknya kasus perundungan guru oleh siswa, terutama di lingkungan sekolah, di samping menjadi potret buram adab, etika dan sopan santun sebagian remaja saat ini, di saat bersaman juga mencerminkan praktik penegakan kedisiplinan di sekolah-sekolah yang masih jauh dari harapan. Bisa jadi, kasus-kasus tersebut merupakan puncak gunung es yang mencuat ke publik karena diabadikan dan viral, yang sebenarnya masih menyimpan banyak kasus serupa di sekolah-sekolah lain yang tak terpublikasikan.

Kenakalan, krisis adab dan sopan santun di kalangan remaja adalah pekerjaan rumah yang tak pernah selesai, namun mesti terus berusaha diatasi semua pihak, baik keluarga, sekolah, dan seluruh stakeholder dunia pendidikan. Namun, kita juga tak bisa melupakan pentingnya guru untuk selalu evaluasi diri dengan terus memperbaiki kualitas kepribadiannya sebagai pendidik.

Baik guru maupun murid mesti menyadari posisi masing-masing, sehingga bisa saling menghormati. Guru adalah teladan, namun tak berarti selalu benar. Sedangkan murid adalah anak didik yang wajar melakukan kesalahan, namun melakukan perundungan pada guru jelas menggambarkan tiadanya adab dan kesopanan. Dunia pendidikan adalah dunia di mana semua komponen di dalamnya mesti sama-sama belajar***

(Artikel ini pernah tayang di koran Padang Ekspres edisi 26 Februari 2019)