Bencana Kemanusiaan Kelaparan Besar di Timor-Timur 1977-1979 – Perpustakaan Online Genosida 1965-1966

lalu masih relevankah soal ini, jelas sejarah pahit harus terus disuarakan dan diungkap kebenarannya, tapi soalnya sebenarnya sedekat apakah keberulangannya di Indonesia. sila simak diantaranya dalam Film Dokumenter Bumi Hangus, Sa Pu Nama Pengungsi, Natal Di Tengah Konflik: Kekerasan Bersenjata dan Pengungsi Internal di Papua Barat

Challenges in the pursuit of justice for East Timor’s Great Famine (1977–1979) – Vannessa Hearman

Third World Quarterly Volume 45, 2024 – Issue 2: Memory and justice after famines. Guest

Despite its devastating impact on the population, the 1977–1979 famine in East Timor scarcely features in global studies of hunger. This article traces how the famine was dealt with in international politics during the Indonesian occupation (1975–1999), and in Timor-Leste during the United Nations administration and as an independent nation-state. The East Timor case extends our knowledge of the workings of conflict-induced famines, provides insights into the attempts by transnational activists and diasporic actors to mobilise international action on crises such as famine, and examines the options for dealing with famine and its community-wide legacies in post-conflict societies including under a transitional justice model. By analysing the activities of the country’s transitional justice institution, the Commission for Reception, Truth and Reconciliation (Comissão de Acolhimento, Verdade e Reconciliação, CAVR) and its successor, the Centro Nacional Chega! (CNC), as well as grassroots initiatives, the article outlines some of the challenges of delivering justice for famine victims and survivors in post-conflict societies.

Invasi Indonesia dan Kelaparan Paksa di Timor Timur – Clinton Fernandes

Dalam makalah ini, saya melacak aspek-aspek dari perang konvensional yang berlangsung dari 1975 hingga 1979 tersebut. Semenjak militer Indonesia bertujuan menghancurkan perlawanan rakyat Timor Timur tanpa menghiraukan semua pertimbangan lain, maka kelaparan adalah akibat langsung dari perang. Saya juga membahas reorganisasi administratif dan logistik Timor Timur sebagai akibat dari perang tersebut. Hal ini akan memberi landasan bagi kasus tersebut untuk penelitian yang lebih mendalam mengenai pelbagai kejadian pada akhir 1970-an. Penting untuk memahami peristiwa tersebut dengan lebih jernih bila kita ingin memahami Timor-Leste hari ini dan kelak. Aspek-aspek politik, komposisi umur, pendidikan, agama, pertanian, irigasi dan suplai makanan Timor-Leste sangat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa pada akhir 1970-an.

Pemindahan Paksa dan Kelaparan – Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CAVR) di Timor-Leste (indoprogress)

Sebagai bagian dari mandatnya untuk menetapkan kebenaran yang berhubungan dengan pelanggaran hak asasi manusia, Komisi melakukan penelitian mengenai pemindahan paksa dan kelaparan di Timor-Leste selama 1974-1999. Penelitian ini sangatlah penting untuk memberikan pengertian tentang penderitaan manusia dan pelanggaran hak asasi manusia yang berhubungan dengan konflik karena pemindahan paksa adalah salah satu ciri utama dari konflik selama bertahun-tahun di Timor-Leste. Hampir setiap orang Timor-Leste yang hidup dalam tahun-tahun tersebut mengalami suatu jenis pemindahan, bahkan banyak yang mengalami lebih dari satu kali.

Chega! – Laporan akhir Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR) – 3650 halaman (dalam BahasaIndonesia)

dari Halaman 544

kata kelaparan sebanyak 925 dalam indeks buku Chega! ini

Australian News Photography and Contested Images of Famine in Indonesian-Occupied East Timor – Vannessa Hearman

Australian Historical Studies Volume 54, 2023 – Issue 3

The Indonesian invasion of East Timor in December 1975 and subsequent military operations to suppress the East Timorese resistance led to widespread displacement and famine in 1977–79. With Indonesia restricting access to East Timor during the operations, a set of photographs of famine-afflicted children, taken by Australian journalist Peter Rodgers and published in metropolitan daily newspapers in Melbourne and Sydney in November 1979, triggered renewed debate about conditions in the territory. This article traces the production and circulation of the photographs by a range of image brokers, those working in the media and those campaigning for East Timor’s independence. The Rodgers photographs are now recognised as iconic and foundational in the collection of images used in the independence campaign. However, the history of the Rodgers photographs and the discourses that developed around them demonstrate the multiple interpretations and problems that arise in representations of famine through photographs.

Talking Indonesia: East Timor’s Great Famine, 1977-1979

perbincangan Jemma Purdey dengan Vannessa Hearman

simak kompilasi perpustakaan online kami terkait Timor Timur, Timor Leste kini