Peluang dan Tantangan Penduduk Lansia di Sumatera Selatan

Tulisan Nugraha Pukuh (Statistisi Madya BPS Provinsi Selatan), terbit di Sriwijaya Post tanggal 12 Maret 2025

Menyongsong Era Silver Economy : Peluang dan Tantangan Penduduk Lansia di Sumatera Selatan

Penulis :

Nugraha Pukuh, SST, MEKK

(Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Sumatera Selatan)

Sumatera Selatan tengah memasuki babak baru dalam dinamika kependudukan yaitu peningkatan penduduk lansia. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi lansia (60 tahun ke atas) di provinsi ini terus meningkat dari 8,47 persen pada tahun 2020 menjadi 9,85 persen pada tahun 2024, dan diperkirakan akan mencapai 17,63 persen pada tahun 2045, ketika Indonesia genap berusia 100 tahun. Fenomena penuaan penduduk (aging population atau populasi menua) yang juga terjadi secara global ini membawa berbagai tantangan sosial dan ekonomi, mulai dari meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan perlindungan sosial hingga potensi menurunnya produktivitas tenaga kerja. Namun, di balik tantangan ini, juga terdapat peluang besar dalam ekonomi yang dapat dimanfaatkan melalui konsep Silver Economy.

Konsep silver economy atau ekonomi berbasis lansia pertama kali diperkenalkan oleh European Commission pada awal tahun 2000-an. Konsep ini menekankan pada pemanfaatan potensi ekonomi dari populasi lansia, baik sebagai konsumen maupun pelaku ekonomi. Menurut Dr. Alexandre Kalache, pakar aging dan mantan direktur World Health Organization (WHO), lansia adalah aset yang sering diabaikan. Padahal mereka memiliki pengalaman, keterampilan, dan jaringan sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Data BPS tahun 2024 memberikan gambaran menarik tentang kondisi lansia di provinsi ini. Mayoritas lansia di Sumatera Selatan tinggal di daerah perdesaan, yaitu sekitar 62,59 persen dari total lansia. Sektor pertanian menjadi mata pencaharian utama mereka yang masih bekerja. Sebagian besar lansia yang masih bekerja tersebut berstatus sebagai pelaku usaha mandiri, dibantu buruh tidak tetap atau keluarga, dan sebagai pekerja keluarga. Sementara hanya sekitar 15,72 persen saja yang bekerja di sektor formal. Meskipun demikian, lansia yang masih bekerja ini menunjukkan bahwa mereka masih memiliki semangat kerja yang tinggi, meskipun dalam skema kerja yang mungkin lebih fleksibel. Rata-rata penghasilan lansia yang bekerja di Sumatera Selatan adalah sekitar Rp2.092.520 per bulan, di mana hampir separuhnya tergolong berpenghasilan rendah. Tidak hanya itu, ketahanan ekonomi mereka juga tergolong masih terbatas, terlihat dari rendahnya kepemilikan rekening tabungan yang hanya mencapai 27,25 persen. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi lansia di Sumatera Selatan menjadi penting agar mereka dapat lebih mandiri secara finansial. Dalam konteks ini, ungkapan “jangan tua sebelum kaya” menjadi pengingat penting bagi kita bahwa mempersiapkan finansial sejak dini adalah kunci untuk memastikan kesejahteraan di usia senja.

Dari sisi pendidikan, angka melek huruf lansia di Sumatera Selatan sudah cukup tinggi, yakni 93,06 persen, namun rata-rata lama sekolah mereka masih sangat rendah, hanya 5,48 tahun. Sebagian besar lansia hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar (SD) ke bawah yaitu mencapai 69,8 persen. Sementara yang mengenyam pendidikan tinggi hanya sekitar 5,03 persen. Hal ini tentunya akan berimplikasi pada terbatasnya akses lansia terhadap pekerjaan di sektor formal dan peluang ekonomi berbasis digital. Meski demikian, perkembangan teknologi sudah mulai diadopsi oleh kelompok ini, terbukti dari 56,25 persen lansia sudah menggunakan teknologi telepon selular dan sekitar 23,22 persen telah mengakses internet. Ini dapat menjadi peluang besar untuk mengembangkan platform digital yang ramah lansia, baik dalam layanan kesehatan, transaksi keuangan, maupun aktivitas sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kesehatan lansia juga menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian utama. Sebanyak 44,94 persen lansia di Sumatera Selatan mengalami keluhan kesehatan, dengan angka kesakitan mencapai 18,8 persen. Sayangnya, mayoritas lansia lebih memilih mengobati sendiri dibandingkan mengakses layanan kesehatan formal ketika mereka mengalami keluhan kesehatan. Selain itu, meskipun 77,32 persen lansia di Sumatera Selatan telah memiliki jaminan kesehatan, masih banyak yang belum mendapatkan layanan kesehatan optimal, terutama di daerah perdesaan. Rendahnya akses terhadap layanan kesehatan formal ini dapat berdampak pada kualitas hidup lansia dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk memperluas akses layanan kesehatan berbasis komunitas, seperti program home care dan telemedicine yang dapat menjangkau lansia terutama di wilayah perdesaan dan terpencil.

Meningkatnya jumlah lansia membuka peluang besar bagi pengembangan Silver Economy. Lansia bukan sekadar kelompok yang membutuhkan perhatian sosial, tetapi juga merupakan konsumen potensial di berbagai sektor. Sektor kewirausahaan, misalnya, dapat dikembangkan dengan memberdayakan lansia yang memiliki pengalaman luas di bidang pertanian dan usaha kecil. Program inkubasi bisnis yang khusus dirancang bagi lansia dapat membuka peluang bagi mereka untuk tetap produktif, baik melalui usaha berbasis komunitas seperti agrowisata, kuliner khas, maupun usaha kerajinan tangan atau fashion daerah. Selain itu, dunia kerja juga perlu beradaptasi dengan perubahan demografi ini. Dengan rata-rata jam kerja lansia yang hanya 32,27 jam per minggu, perusahaan dapat mengembangkan skema kerja yang lebih fleksibel dan memungkinkan lansia tetap bekerja sesuai dengan kapasitas dan keahlian mereka, misalnya melalui pekerjaan paruh waktu, pekerjaan dari rumah, atau peran sebagai mentor bagi generasi muda.

Di sektor pariwisata, peluang ekonomi lansia juga masih terbuka. Hanya 17,41 persen lansia Sumatera Selatan yang bepergian dalam setahun terakhir, padahal wisata ramah lansia telah berkembang di berbagai negara. Pengembangan destinasi wisata yang ramah dan mendukung mobilitas lansia, seperti wisata sejarah, wisata religi, ekowisata, atau paket wisata kesehatan, dapat menjadi sektor baru yang menguntungkan bagi perekonomian Sumatera Selatan. Selain itu, meningkatnya kesadaran lansia terhadap gaya hidup sehat juga menciptakan peluang bisnis baru di bidang layanan kesehatan dan perawatan lansia, seperti klinik khusus lansia, layanan fisioterapi, serta program olahraga yang dirancang untuk menjaga kebugaran di usia senja.

Untuk mengoptimalkan potensi Silver Economy dan memastikan kesejahteraan lansia di Sumatera Selatan, diperlukan berbagai kebijakan strategis dari pemerintah daerah. Pertama, peningkatan literasi digital dan keuangan bagi lansia agar mereka dapat lebih mandiri dalam mengakses layanan perbankan, transaksi digital, dan peluang usaha berbasis online. Kedua, dorongan bagi lansia untuk tetap aktif dalam kegiatan ekonomi dengan menciptakan lebih banyak peluang kerja fleksibel dan ramah lansia, serta dukungan bagi kewirausahaan lansia melalui program pendampingan dan akses modal usaha. Ketiga, peningkatan akses kesehatan lansia melalui layanan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi seperti telemedicine untuk menjangkau lansia di daerah perdesaan dan terpencil. Keempat, pengembangan sektor pariwisata dan gaya hidup lansia, dengan menyediakan fasilitas yang mendukung kenyamanan dan mobilitas mereka. Terakhir, penguatan perlindungan sosial dengan mendorong program pensiun dan asuransi bagi pekerja informal, termasuk lansia yang masih bekerja di sektor pertanian dan UMKM.

Melihat tren yang ada, populasi lansia tidak hanya membutuhkan perlindungan, tetapi juga merupakan aset berharga bagi pembangunan ekonomi. Penuaan penduduk seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai beban, melainkan sebagai peluang baru untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya. Dengan kebijakan yang tepat, Silver Economy dapat menjadi pilar baru pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial di Sumatera Selatan. Lansia tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga turut berkontribusi aktif dalam kegiatan ekonomi. Saatnya mengubah paradigma bahwa usia tua bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan awal era baru di mana lansia tetap menjadi aktor penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Unknown's avatar

Published by BPS Provinsi Sumatera Selatan

Merupakan wadah untuk menampung Tulisan opini, Cerpen, Puisi dan Pantun pegawai BPS Provinsi Sumatera Selatan baik terbit di media maupun tidak.
Seluruh insan BPS di Provinsi Sumatera Selatan dapat terus mengembangkan ide atau gagasan dan menorehkannya menjadi goresan opini, cerpen, puisi dan pantun demi mencerdaskan bangsa dan terwujudnya masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya data.