Pemimpin Tuna Krisis – dennykodrat

Selalu emosional saya melihat aksi massa di media sosial. Terlebih saat peristiwa tewasnya Affan Kurniawan, seorang muda yang menjadi tulang punggung keluarganya. Sudah lebih dari 10 tahun terakhir ini, setiap aksi massa senantiasa dihadapi secara represif. Demonstrasi ditangkap oleh para pemimpin negeri ini sebagai pemberontakan yang akan mendongkel jabatan mereka. Ia harus diredam. Ibarat bara api, ia harus segera dipadamkan apapun caranya, sebelum membesar dan membahayakan posisi kekuasaannya. Bisa jadi, kejadian aksi massa epik dan kolosal 212 menjadi acuan. Tidak dapat dibendung. Karena itu, logika kekuatan dan kekuasaan yang digunakan untuk mencegah eskalasi seperti 212 dulu. 

Hati saya remuk karena bukankah rakyat sejatinya adalah raja. Pemilik kekuasaan yang harusnya dilayani oleh pemimpinnya. Bukan sekadar raja ketika kampanye pemilihan umum. Pasca suaranya didapat, lalu dihempaskan tanpa arti begitu saja. Rakyat yang diperlakukan secara represif ini sesungguhnya umat Nabi Muhammad Saw yang oleh beliau saw selalu disebut berulang-kali. Dimuliakan, hingga saat ajal tiba, kata terucap dari mulut Rasulullah Saw tak lain, “ummati…ummati” (umatku… umatku). 

Bayangan saya terlempar jauh saat Khalifah Umar Bin Khattab menjadi pemimpin umat Muhammad saw ini, menggantikan Khalifah Abu Bakar Ashiddiq. Umar didatangi oleh utusan raja Romawi. Sambil terheran-heran, utusan raja Romawi ini bertanya, “Wahai Khalifah, apakah engkau tidak takut tinggal di kebun Kurma seorang diri, tanpa pengawalan. Sementara raja kami ia hidup di istana yang dikelilingi benteng tinggi dan kokoh, dengan pengawalan ketat dan berlapis di setiap bentengnya hingga di kamarnya.” Lalu Umar bertanya, “Takut terhadap apa?” Utusan raja Romawi menjawab,“Terhadap rakyat yang bisa membunuh setiap saat.” Umar menjawab dengan terheran-heran, “Bagaimana mungkin rakyat membenci pemimpinnya.”

Percakapan Umar bin Khattab dan utusan kerajaan Romawi mengindikasikan bahwa rakyat yang dipimpin oleh Umar bin Khattab merupakan rakyat yang tak berjarak dengan pemimpinnya. Kepemimpinan Umar yang adil menyebabkan rakyat begitu mencintai pemimpinnya. Berbeda dengan Raja Romawi, kebijakan zhalim mengakibatkan rakyat membencinya. Tentu saja, selalu ada peluang pihak yang memanfaatkan celah untuk menggantikan posisinya disaat lengah. Karena itu, raja Romawi menggunakan pendekatan kekuasaan untuk mencegah terjadinya peluang itu. 

Rasulullah saw mengingatkan dalam satu hadist, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Umar bin Khattab r.a menjadi contoh sebaik-baiknya pemimpin. Rakyat mencintainya sebagaimana Umar mencintai rakyatnya. Sementara raja Romawi menjadi sejelek-jeleknya pemimpin.


Eskalasi unjuk rasa dan kebencian terhadap aparat menjadi cermin bagaimana rakyat melihat tingkah laku para pemimpinnya. Saat ekonomi terus mengalami pelambatan, pemimpin negeri ini merilis keberhasilan 5,12% pertumbuhan ekonomi yang tidak dirasakan oleh rakyat. Pemimpin negeri ini melihat angka statistik sebagai keberhasilan, tidak mendekatinya dengan sense of crisis bahwa terjadi anomali. PHK di mana-mana, investasi sedikit, namun pertumbuhan meningkat. Jangan-jangan ini fenomena rakyat sedang memakan tabungan atau melakukan kegiatan ekonomi dari pinjaman dan gadai.

Mirisnya, tuna sense of crisis ini diperparah dengan rilis penghasilan DPR. Tantiem komisaris BUMN, plus rangkap jabatan, dan tidak cukup itu, pejabat yang penghasilannya berkali-kali lipat dari rakyatnya (baca: rajanya), masih korupsi juga. Selain itu, gaya hidup mewah diposting terbuka dimedia sosial disaat kebanyakan rakyat mengalami masalah ekonomi. Sopir ojek merupakan cerminan dari kelas masyarakat korban pelambatan ekonomi. Pekerjaan “darurat” karena sebelumnya ia di PHK dari tempat bekerja. Untuk mendapatkan penghasilan instan, menjadi sopir ojek bukan lagi sekadar pilihan, tapi keharusan. Itupun ia menghadapi banyak sopir sebagai “kompetitor” yang senasib, sementara pelanggannya berkurang karena turut di PHK juga dan beralih profesi menjadi sopir ojek. 

Fenomena ini yang gagal dibaca oleh pemimpin negeri ini. Ia “mabuk” dengan kekuasaan. Jabatannya diwariskan pada sanak keluarga, kelompoknya. Kesejahteraan ekonomi berputar di lingkarannya. Tidak beredar secara merata. Proyek strategis negara seperti sumber daya alam tidak mensejahterakan rakyat karena jika tidak dikuasai oleh asing, ia dikelola oleh oligark dari lingkaran kekuasaan yang dulunya berkontribusi sebagai tim sukses. Pendapatan negara yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat hanya didapat dari pajak sumber daya alam tersebut yang tentu jumlahnya terbatas. Sementara keuntungan besarnya dinikmati oleh para oligark tersebut.


 Pemimpin tuna krisis tidak memegang prinsip noblesse oblige, yang memiliki jabatan, kekuasaan, harusnya lebih menghormati kepada rakyat biasa. Padahal jika terjadi revolusi, para pemimpin ini akan menjadi target utama kebencian rakyatnya. Sejarah revolusi Perancis, Italia, menjadi cermin nyata yang seharusnya diingat oleh para pemimpin.

Seharusnya yang harus ditakutkan oleh seorang pemimpin bukan hari ini, di dunia fana yang penuh dengan tipu muslihat dan permainan, melainkan nanti saat pengadilan maha adil digelar di padang Mahsyar. Umat Muhammad saw satu persatu akan meminta keadilan yang terampas. Seandainya para pemimpin negeri ini mewarisi logika berpikir Umar bin Khattab tentu mereka tidak akan tuna krisis. Tidak akan berjoget senang disaat rakyatnya masih ada yang tidak sejahtera.

Sepenggal kalimat Umar, “Sebagai pemimpin, di akhirat nanti aku akan ditanya tentang kepemimpinanku. Bagaimana seandainya masih ada rakyat yang tidak mendapat pembelaan, lalu di akhirat kelak mereka menuntut keadilan di hadapan Allah SWT?” wajib menjadi renungan wahai pemimpin negeri ini. Wallahu’alam bishawwab.