
Judul : Muhammad Nabi Cinta
Penulis : Craig Considine
Penerbit : Noura Books
Cetakan : 1, September 2018
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-385-538-4
Craig Considine, seorang warga Amerika beragama Katolik Roma, melalui buku ini menuangkan kisah, pengalaman, dan pemahamannya dalam mempelajari sejarah Nabi Muhammad dan Islam. Setelah belasan tahun belajar, Craig menyadari banyak hal betapa selama ini apa yang ia tahu tentang Islam begitu berbeda dengan kenyataannya.
Kandidat Ph.D di Jurusan Sosiologi Trinity College Dublin ini mulai mempelajari Islam sejak bertemu Profesor Akbar Ahmed dari American University di Washington DC. “Pada 2008 dan 2009, saya bepergian dengannya ke seluruh Amerika Serikat, lebih dari 100 masjid dan 75 kota, untuk memahami identitas warga Amerika melalui lensa umat Islam,” jelasnya, saat berpidato dalam acara Jalan Perdamaian Tahunan ke-4 di Islamic Centreal-Mustafa Irlandia di Blanchardstown, Dublin, pada 26 Januari 2014.
Craig mengaku, sebelum bertemu Profesor Akbar Ahmed pada 2004, ia tak tahu apa-apa tentang Islam. Ia hidup di kota Needham, yang sebagian besar terdiri atas penganut Protestan Inggris, Katolik Irlandia, dan Yahudi. Sebagai remaja, saat itu Craig mengerti Islam melalui peristiwa-peristiwa 11 September. Ketika itu, dalam bayangan banyak orang, Islam berarti Bin Laden, Al-Qaeda, dan kekerasan, seperti digambarkan media-media di Barat.
Persepsinya mengenai Islam sontak berubah ketika bertemu Profesor Ahmed. Di hari pertama mengajar tentang “Dunia Islam”, Profesor Ahmed membacakan sebuah hadis, “Tinta sarjana lebih keramat daripada darah syuhada”. Dari sana, Craig menemukan bahwa dalam Islam, penguasaan ilmu pengetahuan dan pembelajaran lebih suci daripada menghunus pedang dan menggunakan kekerasan untuk menyerang lawan. Bagi Craig, pernyataan ini tidak saja mengubah caranya berpikirnya tentang Islam, tetapi juga mengubah cara berpikirnya mengenai tujuan hidup.
Sejak saat itu, Craig mencurahkan banyak waktu dan tenaga mempelajari dan mendalami Islam. Di tengah segala bentuk kecurigaan dan pandangan negatif terhadap Islam di Amerika dan Barat secara umum, Craig berkeinginan menggambarkan Islam dengan cara yang segar dan baru. Semua itu, jelasnya, demi membangun jembatan antara umat Islam sedunia dengan warga Amerika.
Namun, upaya tersebut membuat Craig mendapat berbagai sebutan yang dialamatkan padanya. Mulai dari “kiri”, progresif, hingga liberal. Sebagai seorang sarjana dan orang Kristen, namun banyak mempelajari dan menyuarakan ajaran cinta dan perdamaian Islam, Craig juga sering mendapat sebutan “apologis Islam”. Bagi Craig, di tengah dunia Barat yang memandang keliru tentang Islam, jelas perlu upaya mengembalikan pandangan yang sebenarnya mengenai Islam. Baginya, ketakutan, kecurigaan, kebencian, dan segala bentuk Islamofobia yang berkembang di Barat harus dilawan dan diluruskan.
Craig secara konsisten mempelajari dan meneliti tentang Islam, terutama mengenai kehidupan Nabi Muhammad. Berdasarkan bacaan dan pengalamannya selama belasan tahun, ia mendapati bahwa Nabi Muhammad memiliki pandangan-pandangan penting mengenai bagaimana memperlakukan warga non-Muslim. Craig menulis, gagasan-gagasan Nabi Muhammad mengenai kebebasan beragama membuat beliau menjadi juara dalam hal hak asasi manusia, terutama mengenai kebebasan beribadah dan hak minoritas untuk dilindungi pada waktu-waktu sulit.
Berdasarkan penelitiannya, Craig menemukan bahwa Nabi Muhammad menganut prinsip-prinsip menghargai keragaman dan mensyukurinya. Hal ini membuatnya memiliki pandangan—dalam perspektif sebagai warga Amerika—bahwa Nabi Muhammad dan para pendiri bangsa Amerika Serikat menganut prinsip-prinsip yang sama, yakni menghargai keragaman dan menjunjung tinggi persamaan. “Lebih spesifik lagi, Nabi Muhammad dan presiden pertama Amerika Serikat George Washington memiliki semangat sama, khususnya terkait perlakuan terhadap kaum minoritas keagamaan,” jelas Craig.
Di salah satu pembahasan, Craig bahkan mengkritisi Presiden Amerika Serikat saat ini dan memaparkan hal-hal yang bisa dipelajari Donald Trump dan para pendukungnya dari pemimpin Islam. Kita tahu, dalam pernyataannya, Trump kerap menyudutkan Muslim. Seperti melarang imigrasi Muslim, menutup masjid-masjid, memata-matai orang Islam, dan berbagai hal yang turut menguatkan Islamofobia di Amerika Serikat. Tapi, Craig justru melihat bahwa AS perlu belajar dari umat Islam. “Umat Islam memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada Amerika Serikat. Peradaban Islam, memiliki sejarah keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan yang kaya,” tegasnya (hlm 126).
Craig menggambarkan semua itu lewat catatan sejarah. Mulai Piagam Madinah, yang menjadi dokumen hukum pertama dalam sejarah untuk melindungi hak asasi manusia, khotbah terakhir Nabi Muhammad di Gunung Arafah pada 632 M yang menegaskan pentingnya kesetaraan manusia tanpa memandang perbedaan warna kulit, etnis, dan suku, juga ucapan para pemimpin Muslim seperti Khalifah Umar yang mencerminkan ajaran cinta Nabi. Bagi Craig, Nabi Muhammad merupakan sosok anti-rasis yang mempromosikan egalitarianisme. Dan ini berbeda sekali dengan apa yang ditunjukkan pemimpin Amerika saat ini.
Penawar
Buku ini punya posisi penting di tengah kondisi dunia saat ini. Kita melihat para elite politik haus kekuasaan di banyak negara di dunia terus berusaha menggaet dukungan masyarakat dengan memanfaatkan label, identitas kelompok, kelas ekonomi, suku, hingga agama. Ketika terjadi terorisme di Barat oleh kelompok ekstremis, para pemimpin politik, agama, juga media di Barat turut mengambil keuntungan dengan mengecam sekaligus menggiring persepsi masyarakat bahwa Islam adalah “suatu masalah”. Inilah yang membuat Islamofobia berkembang di Barat.
Seperti dikatakan Harris Zafar, ketika 62% warga Amerika tak mengenal seorang Muslim pun dan hanya mendengarkan pemimpin-pemimpin mereka yang terus menyebarkan ketakutan tak beralasan terhadap Islam, tentu saja mereka (warga Amerika) mudah menerima retorika tersebut sebagai kebenaran. “Ketakutan ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kebencian,” tulisnya. Di sinilah, karya Craig ini menjadi begitu penting untuk menjernihkan segala kekeliruan pemahaman yang dibangun berbagai retorika dan kabar yang berhembus di Barat.
Demi masa depan persaudaraan dan hubungan baik antar kelompok, Craig merasa perlu meluruskan berbagai stigma dan tanggapan keliru mengenai Islam dan Muslim di banyak masyarakat Barat. Penelaahan Craig tentang Islam dan Nabi Muhammad; ajaran kasih sayang, keadilan, kesetaraan, dan perdamaian yang didapatkan di dalamnya, menjadi begitu berharga di tengah dunia saat ini yang penuh provokasi dan kebencian. Semua itu adalah racun yang merusak persaudaraan antarmanusia. Tulisan-tulisan Craig di buku ini adalah cara untuk melawannya.
(Naskah ini pernah tayang di Koran Sindo edisi 28 April 2019)
