Sharing is Caring – dennykodrat

Pukul 6 pagi, Selasa 7 Oktober 2025, saya sudah berada di dalam travel menuju SMAK 3 Bina Bakti, Kopo Bandung. Saya diberi kesempatan memaparkan pembelajaran mendalam dalam IHT guru-guru di sana. Bu Lenny membisikan pada saya agar materinya dibungkus sedemikian rupa supaya guru-guru tidak tertidur. Soalnya 4 jam, full. Saya tersenyum. “Kita lihat ya Bu.”

Diawali dengan doa pagi, sambutan kepala sekolah, saya langsung gaspol menyampaikan beberapa poin penting sebelum membahas pembelajaran mendalam. Saya sampaikan mengenai kondisi VUCA saat ini. Situasi yang berbeda, terus berubah, tak terprediksi. Kondisi siswa Indonesia yang mengalami functional illiteracy, hingga konsep dasar mutu dan school wellbeings. Langsung to the point, tanpa ice breaking atau gaya andragogi. Pertimbangannya, konsep-konsep ini harus sesegera disampaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, pada golden period guru-guru. 60 menit pertama di pagi hari adalah prime time, menurut saya. Masih fresh, belum jenuh.

Menuju break sesi pertama, saya masuk ke konsep pembelajaran mendalam. Saya ulas dengan metode story telling. Saya bercerita berdasarkan pengalaman. Apa yang saya amati dan alami. Cerita mengalir. Setidaknya 20 tahun menjadi guru di beberapa sekolah, banyak stok cerita yang dapat saya bagi. Mereka menyimak. Saat jenuh mulai menyapa, break time tiba. I was saved by the bell.


Sesi kedua, saya memberikan contoh modul ajar/RPP dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Sedikit melakukan simulasi. Sisa waktu hingga akhir lebih banyak mendengar tanggapan, pertanyaan, keluhan, insight guru-guru. Di bagian paling akhir, saya memberi motivasi, penguat untuk terus berkreasi, mencoba metode-metode baru yang berpusat pada siswa. Hingga waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Saya harus segera menyudahi IHT tersebut.

Sebenarnya, saya diagendakan menyampaikan materi hingga pukul 13.00 WIB. Namun, saya mendapatkan undangan menghadiri rapat di GTK Disdik mengenai Anjab ABK, pekerjaan yang sudah dimulai sejak awal tahun 2025, yang saat ini sudah pada putaran akhir sebelum nanti dibuat peraturan gubernur. Saya sampaikan pula kebingungan saya, kenapa sering kali saat kita menyepakati satu kegiatan, tiba-tiba selalu ada saja kegiatan lain yang menyusul atau berbentrokan. Seolah satu kegiatan mengundang kegiatan lain.

Rekan saya dari tim digitalisasi pendidikan kementerian, dua hari sebelumnya, memasukan saya sebagai narasumber kegiatan tersebut yang diselenggarakan di Jakarta pada Senin hingga Rabu. Otomatis, jika saya mengiyakan, kegiatan Selasa di Bandung tidak dapat saya lakukan. Kebetulannya, Saat saya mendapatkan undangan itu, saya sedang kurang sehat, sehingga saya memohon maaf belum bisa memenuhi undangan mereka. Mungkin di waktu lain, jika berjodoh.


Singkat cerita, saya sudah berada di Dinas Pendidikan Prov. Jawa Barat. Tiba-tiba, pesan dari Kang Hadi masuk gawai saya, menanyakan judul untuk acara Layung Langit SMTV, Kamis besok, 9 Oktober 2025. Lagi-lagi saya tertegun. Oh iya, ada satu jadwal rutin saya yang satu bulan kemarin tidak dapat saya penuhi. Mengisi Layung Langit. Acara ini bagi saya istimewa, bagian yang menjadi “kemewahan” aktivitas saya. Sharing bersama para penonton SMTV. Entah mengapa, satu bulan terakhir ini saya begitu sulit menyempatkan memenuhi undangan SMTV. Mungkin belum berjodoh kala itu. Tetapi jika tidak dikondisikan atau dipaksakan, jangan-jangan, bulan ini pun terlepas.

Saya langsung balas di tengah diskusi serius santai dengan tim hebat Anjab ABK. “Temanya disiplin positif bagi anak untuk mencapai prestasi, Kang” Begitu pesan saya. Dibalas, oke oleh Kang Hadi. Dalam hati saya, salah satu acara “mewah” saya, alhamdulillah dapat saya ikuti kembali.


Time is money begitu kata kapitalis. Waktu harus dikonversi dengan uang. Saya tidak sepakat dengan itu. Saya memegang prinsip waktu adalah pedang. Jika tidak dapat mengaturnya, kita yang akan kena tebasannya. Bukankah kita semua dalam kerugian, kecuali jika dapat menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik, begitu firman Allah Swt dalam surah An-Ashr.

Namun dibalik aktivitas itu, sering terselip kegundahan. Apakah sharing yang dilakukan merupakan bentuk caring yang tulus, jujur dan ikhlas. Atau supaya dapat pujian, atau supaya terlihat sedang sibuk bekerja? Ini yang sampai saat ini saya khawatirkan.